- 8.8/10 (12 Reviews)

- 20 hari lalu
iPhone 20 Pro dan Pro Max dirumorkan hadir dengan layar nyaris tanpa bezel, ukuran lebih besar, dan desain khusus untuk menandai 20 tahun iPhone.

Hedra.ID, Jakarta - Melihat alamat situs yang berakhir dengan .id bisa memberi petunjuk bahwa kita sedang berhadapan dengan nama domain Indonesia. Namun, identitas itu tidak otomatis membuat seluruh aktivitas di balik domain tersebut aman.
Perbedaannya penting. Nama domain membantu orang menemukan dan mengenali sebuah layanan di internet. Keamanan bergantung pada hal lain: bagaimana domain digunakan, bagaimana penyalahgunaan dipantau, dan seberapa cepat pihak terkait dapat merespons ketika masalah ditemukan.
Karena itu, pembicaraan tentang perkembangan domain .id tidak berhenti pada jumlah pengguna atau kekuatan identitas lokal. Kementerian Komunikasi dan Digital juga meminta aspek keamanan diperhitungkan ketika layanan berbasis .id dirancang.
“Keamanan dan kepercayaan harus dibangun sejak tahap perencanaan,” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria melalui keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Kamis (3/9/2026).
Kebingungan mudah muncul karena nama domain menjadi salah satu bagian pertama yang terlihat ketika seseorang membuka situs. Alamat yang terasa familiar bisa ikut membangun rasa percaya.
Namun, nama domain dan keamanan situs bukan hal yang sama. Domain yang sah tetap dapat disalahgunakan. Pelaku kejahatan digital juga dapat memanfaatkan nama yang menyerupai merek, organisasi, atau layanan tertentu agar situs terlihat meyakinkan.
Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) mencatat berbagai bentuk penyalahgunaan dalam pemantauan domain, antara lain phishing, malware, spam, impersonasi, dan judi online. Pada semester pertama 2026, sistem Indonesia Domain Abuse Data Exchange atau IDADX mencatat puluhan ribu URL yang terindikasi berkaitan dengan penyalahgunaan domain.
Temuan itu bukan alasan untuk menganggap seluruh ekosistem .id tidak aman. Justru di sinilah batasnya perlu diperjelas: ekstensi domain dapat menunjukkan identitas, tetapi tidak dapat sendirian menjamin apa yang dilakukan sebuah situs setelah domain tersebut terdaftar.
Risiko muncul dari penggunaan domain. Karena itu, perlindungan juga perlu melihat apa yang terjadi setelah proses pendaftaran selesai.
Permintaan agar keamanan diperhitungkan sejak tahap perencanaan membawa pendekatan yang berbeda dari pola yang hanya bereaksi setelah insiden terjadi.
Dalam mekanisme yang dijelaskan PANDI, pemantauan penyalahgunaan melibatkan pengumpulan data, analisis, identifikasi, validasi, hingga koordinasi penanganan. IDADX juga didukung Breach Identification and Monitoring Assistant atau BIMA untuk membantu identifikasi dan pemantauan potensi penyalahgunaan domain .id.
Artinya, sistem tidak hanya membutuhkan mekanisme untuk mendaftarkan sebuah nama domain. Ekosistem di belakangnya juga perlu mempunyai cara untuk mengenali indikasi penyalahgunaan dan menentukan bagaimana informasi tersebut diteruskan untuk ditangani.
Ketua PANDI Isnawan menggambarkan kebutuhan itu sebagai tanggung jawab bersama.
“Keamanan ruang digital adalah tanggung jawab bersama. Melalui IDADX, PANDI berupaya memastikan setiap indikasi penyalahgunaan domain .id dapat ditangani secara lebih terukur, cepat, dan akuntabel,” ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin memperjelas posisi sistem pemantauan. Tujuannya bukan menjanjikan bahwa penyalahgunaan tidak akan terjadi, melainkan menyiapkan mekanisme agar indikasi masalah dapat dikenali dan ditangani secara lebih terstruktur.
Itulah inti keamanan yang dipikirkan sejak desain. Kemampuan mendeteksi masalah, mengelola laporan, dan meneruskan informasi kepada pihak yang dapat bertindak bukan sekadar tambahan setelah layanan membesar. Fungsi itu perlu menjadi bagian dari cara ekosistem bekerja.
Namun, pendekatan ini tetap memiliki batas. Pemantauan tidak berarti setiap ancaman bisa dicegah sebelum terjadi. Penyalahgunaan baru tetap dapat muncul, dan sistem hanya dapat merespons berdasarkan informasi yang berhasil ditemukan atau dilaporkan.
Pengelolaan sebuah domain juga tidak berdiri pada satu pihak. Ada registry yang mengelola domain tingkat atas, registrar yang melayani pendaftaran, penyelenggara jaringan, lembaga keamanan siber, serta tim respons insiden yang dapat terlibat ketika masalah ditemukan.
Itu sebabnya Komdigi turut mendorong pertukaran data antara registry, registrar, penyelenggara jasa internet, lembaga keamanan siber, dan tim respons insiden untuk mendeteksi dan menangani penyalahgunaan domain.
Informasi mengenai sebuah ancaman menjadi kurang berguna jika berhenti pada pihak yang tidak memiliki kemampuan untuk menangani seluruh bagian masalah. Deteksi perlu terhubung dengan proses respons.
PANDI juga bekerja sama dengan jaringan Trusted Notifier untuk menangani laporan terkait nama domain .id. Model seperti ini menempatkan laporan bukan sekadar sebagai catatan, tetapi sebagai bagian dari koordinasi antarpihak.
Dari sini terlihat mengapa keamanan .id tidak bisa dibebankan hanya kepada pemilik situs atau pengelola registri. Risiko dapat muncul di banyak titik, sementara informasi untuk mengenalinya juga bisa tersebar.
Identitas lokal tetap menjadi bagian penting dari domain .id. Namun, ketika ekosistemnya tumbuh, ukuran kepercayaan tidak cukup berhenti pada dua huruf di belakang alamat situs.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sistem di belakangnya mampu mengenali penyalahgunaan, menghubungkan informasi yang tersebar, dan menyiapkan respons ketika masalah muncul. Keamanan sejak desain tidak berarti menjanjikan domain .id tidak akan pernah disalahgunakan. Artinya, kemungkinan penyalahgunaan sudah diperhitungkan sebelum masalah itu benar-benar terjadi.