- 8.8/10 (12 Reviews)

- 23 hari lalu
Pemerintah menyiapkan Otoritas Pelindungan Data Pribadi di luar Komdigi. Independensinya akan ditentukan oleh desain pelaporan, anggaran, dan penegakan.

Hedra.ID, Yogyakarta - Peluncuran UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center, Kamis ( 13/8/2026), menempatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam posisi yang lebih luas daripada sekadar tempat mempelajari AI. Pusat ini mempertemukan riset universitas, mitra industri, infrastruktur komputasi, dan proyek terapan di bidang kesehatan, kebencanaan, serta pertanian.
Susunan itu penting karena pengembangan AI tidak berhenti pada kemampuan membuat model. Ada kebutuhan komputasi, teknologi pendukung, data, pengetahuan dari bidang tertentu, hingga jalur untuk membawa eksperimen menjadi aplikasi. Di UGM, beberapa lapisan tersebut mulai dipertemukan melalui satu ekosistem kolaborasi.
UGM menyebut tiga proyek unggulan yang dikembangkan melalui pusat tersebut: e-Nose TB dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan; Tech4Disaster dari Fakultas Geografi; serta Smart Agriculture dari Fakultas Teknologi Pertanian.
Ketiga proyek itu memperlihatkan pola yang sama. Titik awal pengembangan AI bukan semata teknologi model, melainkan persoalan yang sudah menjadi bagian dari riset kampus. Pengetahuan mengenai tuberkulosis, kebencanaan, atau pertanian datang dari disiplin yang berbeda, lalu bertemu dengan kebutuhan komputasi dan perangkat teknis lain.
Di sinilah posisi universitas mulai melebar. Kampus tidak hanya menghasilkan riset atau talenta, tetapi juga menjadi tempat pengetahuan bidang tertentu dapat bertemu dengan kapasitas teknologi yang dibawa mitra industri.
Gambaran yang lebih konkret terlihat pada proyek pertanian. Dokumentasi Fakultas Teknologi Pertanian UGM menyebut persiapan integrasi server lokal universitas dengan infrastruktur GPU Merdeka milik Indosat yang berjalan di platform Cloudeka Lintasarta. Kerangka yang dibahas mencakup pemrosesan data dari drone, kamera, dan sensor lapangan, komputasi di perangkat edge, pengembangan model AI, hingga analitik dan visualisasi.
Rangkaian itu menunjukkan perbedaan antara sekadar memiliki kelompok riset AI dan membangun simpul pengembangan AI. Peneliti dari berbagai disiplin mendapat akses ke lapisan komputasi yang dibutuhkan, sementara infrastruktur tersebut memiliki jalur menuju kasus penggunaan yang berasal dari aktivitas riset kampus.
Lapisan talenta berjalan berdekatan dengan pengembangan pusat AI. UGM dan Kementerian Komunikasi dan Digital juga menjalankan AI Talent Factory yang mencakup Data Science, Deep Learning, dan LLM Practitioner untuk mahasiswa dan dosen. Program Batch 2 dijadwalkan berlangsung dari Agustus hingga Desember 2026.
Jika kedua inisiatif dilihat bersama, fungsi pendidikan universitas tidak tergeser. Yang berubah adalah jumlah lapisan yang bisa terhubung di sekitar aktivitas pendidikan dan penelitian. Kampus menjadi salah satu tempat talenta, persoalan riset, teknologi, dan kapasitas komputasi dapat bertemu.
Pemerintah menempatkan pusat tersebut dalam kerangka yang lebih besar. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut AI Technology Center di UGM sebagai bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence yang dipimpin Komdigi dengan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Menurut Meutya, keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan atau prototipe, tetapi juga dari kompetensi talenta, pemanfaatan solusi, serta inovasi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan di Indonesia.
Ukuran itu sekaligus memberi batas terhadap makna peluncuran pusat AI ini. Infrastruktur, proyek, dan mitra yang tersedia memberi UGM perangkat untuk menjalankan kolaborasi yang lebih terintegrasi. Namun, keberadaan pusat tersebut belum cukup untuk menunjukkan seberapa jauh model ini akan menghasilkan solusi yang dipakai atau memperkuat kapasitas riset dalam jangka panjang.
Dampaknya baru dapat dinilai dari perkembangan proyek, penggunaan solusi yang dihasilkan, kapasitas riset yang terbentuk, serta hubungan antara eksperimen kampus dan penerapan AI.
Untuk sekarang, perubahan paling jelas terlihat pada posisi kampus di dalam rantai pengembangan AI. Universitas tidak hanya menyiapkan orang yang akan bekerja dengan teknologinya, tetapi juga mulai menjadi simpul tempat riset, komputasi, talenta, dan kebutuhan penerapan bertemu.