- 8.8/10 (12 Reviews)

- 5 hari lalu
Pita 700 MHz membantu memperluas cakupan, sedangkan 2,6 GHz menambah kapasitas. Keduanya bekerja sebagai lapisan jaringan yang saling melengkapi.

Hedra.ID, Jakarta - Fiksi ilmiah kerap menggambarkan AI sebagai otak sebuah kapal antariksa. Sistem itu mengawasi seluruh perjalanan, memahami setiap perubahan, lalu mengambil keputusan tanpa menunggu manusia. Dalam misi antariksa nyata, kemampuan AI masih jauh lebih terbatas.
AI memang sudah membantu rover mengenali rintangan, menyusun rute, memilih data yang layak dikirim, atau menjalankan jadwal tertentu. Kemampuan ini penting karena wahana yang berada jauh dari Bumi tidak dapat menunggu perintah untuk setiap gerakan.
Namun, mampu menjalankan satu tugas secara mandiri tidak sama dengan mampu mengendalikan seluruh misi. Perbedaannya baru terlihat ketika keadaan bergerak di luar skenario yang telah disiapkan.
AI saat ini paling berguna ketika tujuan, data masukan, dan batas tindakannya cukup jelas. Sistem dapat mengolah banyak informasi, mengenali pola, lalu memilih tindakan dari kemungkinan yang telah dirancang sebelumnya.
Pada sebuah rover, misalnya, satu sistem dapat mendeteksi batu atau kemiringan permukaan. Informasi itu diteruskan ke bagian lain yang menghitung jalur, lalu modul berikutnya mengatur pergerakan. Jadi, otonomi biasanya muncul dari beberapa komponen dengan fungsi berbeda yang bekerja bersama.
Susunan ini tidak sama dengan satu kecerdasan umum yang memahami seluruh kondisi wahana. Setiap bagian tetap memiliki tugas, data, dan aturan tersendiri. Ketika keadaan keluar dari ruang kerja tersebut, kemampuan sistem untuk memilih tindakan yang aman ikut berkurang.
Di sinilah tantangannya. Lingkungan antariksa penuh dengan kondisi yang sulit diprediksi secara lengkap. Radiasi, suhu ekstrem, kerusakan komponen, keterbatasan daya, perubahan permukaan, atau pembacaan sensor yang tidak biasa dapat muncul dalam kombinasi yang belum pernah ditemui sistem.
Dalam penggunaan sehari-hari, kesalahan AI mungkin cukup diperbaiki dengan mengulang perintah. Pada misi antariksa, satu keputusan keliru dapat menghabiskan daya, merusak instrumen, menghilangkan kesempatan pengamatan, atau menempatkan wahana dalam keadaan yang sulit dipulihkan.
Kebutuhan akan AI bukan muncul karena pengelola misi ingin menyerahkan seluruh kendali kepada mesin. Otonomi dibutuhkan karena komunikasi antariksa memiliki keterbatasan yang tidak dapat diatasi hanya dengan menambah operator di Bumi.
Semakin jauh posisi wahana, semakin lama perintah dan data harus melakukan perjalanan. Tim pengendali tidak dapat mengoperasikan rover atau pesawat antariksa seperti menggerakkan kendaraan dengan kendali jarak jauh secara langsung.
Akibatnya, wahana harus mampu menangani sebagian pekerjaan rutin, mengatur prioritas, dan merespons bahaya tertentu tanpa menunggu jawaban dari Bumi. Perencanaan, penjadwalan, pengelolaan gangguan, pemilihan target ilmiah, dan peringkasan data termasuk pekerjaan yang dapat dibantu sistem otonom.
Perkembangan ke arah itu sudah terlihat. Dalam demonstrasi pada Perseverance, AI generatif digunakan untuk membantu merencanakan rute rover di Mars. Namun, rute tersebut tidak langsung dijalankan begitu saja. Tim misi terlebih dahulu mengujinya melalui kembaran digital rover sebelum mengirimkan perintah.
Contoh ini menunjukkan posisi AI yang lebih realistis. Sistem dapat mengambil alih pekerjaan yang memakan waktu, sementara keputusan penting tetap berada dalam proses pemeriksaan yang dirancang manusia.
Dengan kata lain, otonomi tidak menghilangkan kendali misi. Otonomi mengubah pembagian kerja antara wahana dan tim di Bumi. Mesin menangani keputusan lokal yang harus dibuat dengan cepat, sedangkan manusia menentukan tujuan, batas risiko, dan langkah yang perlu diambil ketika situasi menjadi lebih rumit.
Masalah berikutnya muncul setelah sistem otonom mengambil keputusan. Tim di Bumi tetap perlu mengetahui apa yang dilakukan wahana, mengapa tindakan itu dipilih, dan perubahan apa yang terjadi pada kondisinya.
Operasi yang semakin mandiri membutuhkan cara kerja baru. Operator harus dapat menyampaikan tujuan misi kepada sistem, memperkirakan dampak sebuah rencana, serta menelusuri kembali keputusan yang dibuat di dalam wahana.
Tanpa kemampuan itu, otonomi justru dapat menciptakan titik buta. Wahana mungkin tetap beroperasi, tetapi tim kesulitan membedakan tindakan yang memang direncanakan, penyesuaian yang masih aman, dan anomali yang tertutup oleh keputusan otomatis.
Karena itu, tantangan AI antariksa bukan hanya membuat model yang lebih canggih. Sistem juga harus memiliki batas tindakan yang jelas, cukup dapat diprediksi, mampu menunjukkan alasan di balik keputusan, dan dapat beralih ke kondisi aman ketika tingkat kepastiannya menurun.
Arah pengembangannya bukan mengganti pusat kendali dengan satu AI yang memutuskan segalanya. Pembagian tugas justru akan semakin spesifik. Mesin dapat menangani pengamatan cepat dan keputusan lokal yang waktunya sempit, sementara manusia tetap mengawasi tujuan misi dan konsekuensi yang lebih luas.
AI baru layak menerima otonomi lebih besar ketika kegagalannya dapat diketahui dan dampaknya dapat dibatasi. Dalam misi antariksa, ukuran kecerdasan bukan sekadar berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan tanpa bantuan manusia. Ukuran yang lebih penting adalah apakah wahana tetap dapat dipercaya ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam rencana.