- 8.8/10 (12 Reviews)

- 4 hari lalu
Google resmi menghadirkan Google Meet di Apple CarPlay. Pengguna kini bisa ikut meeting audio-only dari mobil dan melihat jadwal rapat langsung di dashboard.

Hedra.ID, Washington - Misi Artemis II kembali mencuri perhatian publik, bukan hanya karena berhasil membawa manusia kembali terbang jauh ke sekitar Bulan, tetapi juga karena menghadirkan sejumlah pemandangan luar angkasa yang benar-benar langka.
Salah satu yang paling mencolok adalah foto “Earthset”, yaitu momen ketika Bumi terlihat seolah-olah “terbenam” di balik cakrawala Bulan, mirip seperti matahari terbenam yang biasa kita lihat dari Bumi.
Foto ini diambil saat kru Artemis II melintas di sisi jauh Bulan (far side of the Moon), wilayah yang tidak pernah terlihat langsung dari Bumi. NASA menyebut gambar tersebut sebagai salah satu visual paling ikonik dari misi ini sejauh ini.
Bagi penggemar eksplorasi antariksa, foto “Earthset” ini punya makna yang lebih besar dari sekadar gambar indah.
NASA menyebut foto itu mengingatkan pada “Earthrise”, gambar legendaris yang diambil astronaut Bill Anders saat misi Apollo 8 pada 1968. Saat itu, dunia untuk pertama kalinya melihat Bumi muncul di atas horizon Bulan, menjadi sebuah momen yang mengubah cara manusia memandang planetnya sendiri.
Kini, hampir 58 tahun kemudian, kru Artemis II menghadirkan versi modern dari momen tersebut. Bedanya, kali ini yang terlihat adalah Bumi “tenggelam” di balik permukaan Bulan, dengan cahaya tipis planet biru itu masih tampak di antara kegelapan luar angkasa.
Dari sudut pandang visual, hasilnya terasa dramatis. Tapi dari sisi simbolik, foto ini juga mempertegas satu hal: eksplorasi luar angkasa masih punya kekuatan besar untuk membuat manusia melihat Bumi sebagai rumah yang kecil, rapuh, dan sangat jauh dari ruang hampa kosmik.
Tak hanya membawa pulang foto yang menakjubkan, kru Artemis II juga mencatatkan pencapaian bersejarah. Apa saja?
Pada 6 April 2026, empat astronaut di dalam kapsul Orion berhasil memecahkan rekor sebagai manusia yang menempuh jarak terjauh dari Bumi dalam sejarah penerbangan antariksa berawak, melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh misi Apollo 13 sejak 1970.
NASA mencatat kru mencapai jarak sekitar 248.655 mil dari Bumi, lalu terus melaju hingga titik maksimum sekitar 252.757 mil dari planet kita.
Rekor ini menegaskan posisi Artemis II sebagai misi yang sangat penting, karena ini adalah penerbangan berawak pertama NASA ke sekitar Bulan dalam lebih dari 50 tahun.
Salah satu momen paling langka dalam perjalanan ini adalah ketika kru menyaksikan gerhana matahari total dari luar angkasa, tepatnya dari sisi jauh Bulan. Dari perspektif kapsul Orion, Bulan tampak cukup besar untuk menutupi Matahari sepenuhnya, menciptakan totalitas yang berlangsung hampir 54 menit, di mana jauh lebih lama dibanding kebanyakan gerhana total yang terlihat dari Bumi.
Dalam kondisi itu, kru bisa melihat halo cahaya di sekitar Bulan, yang diduga merupakan kombinasi dari korona Matahari dan efek cahaya lain di ruang angkasa. Beberapa bintang dan bahkan planet juga ikut terlihat karena langit menjadi jauh lebih gelap.

Momen ini bukan hanya spektakuler secara visual, tetapi juga bernilai ilmiah. Kru menggunakan kesempatan tersebut untuk mendokumentasikan kondisi visual yang sulit direkam dari Bumi, termasuk detail cahaya dan perubahan pencahayaan di sekitar Bulan.
Dan ya, seperti yang dikonfirmasi NASA, para astronaut juga tetap memakai kacamata gerhana untuk melindungi mata mereka.
Tak hanya memotret, kru Artemis II juga melakukan observasi permukaan Bulan selama flyby. Saat mengitari sisi jauh Bulan, mereka disebut berhasil mengidentifikasi dua kawah yang sebelumnya belum memiliki nama resmi.
Para astronaut lalu mengusulkan dua nama untuk kawah tersebut, yaitu:
Temuan ini memang tidak sebesar penemuan ilmiah besar, tetapi memberi sentuhan manusiawi pada misi yang sangat teknis. Di tengah eksplorasi ruang angkasa yang penuh angka dan sistem, selalu ada sisi personal yang membuat perjalanan seperti ini terasa lebih dekat.

Secara teknis, Artemis II bukan misi pendaratan. Misi ini adalah uji terbang berawak untuk memastikan sistem roket SLS, kapsul Orion, navigasi, komunikasi, serta kesiapan kru benar-benar siap untuk tahap berikutnya.
Tujuan akhirnya lebih besar: membuka jalan untuk Artemis III, misi yang dirancang membawa manusia kembali mendarat di Bulan, dan dalam jangka panjang mendukung rencana NASA untuk misi ke Mars.
Karena itu, foto-foto seperti Earthset atau gerhana matahari ini memang viral, tetapi nilai sebenarnya dari Artemis II jauh lebih besar dari sekadar dokumentasi visual. Misi ini adalah bagian dari proses panjang membangun kembali kemampuan manusia untuk menjelajah jauh dari orbit rendah Bumi.
Setelah menyelesaikan flyby Bulan dan mengumpulkan berbagai data serta foto, kapsul Orion kini berada dalam fase perjalanan pulang ke Bumi. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Orion dijadwalkan mendarat di Samudra Pasifik dekat San Diego pada 10 April 2026, menutup misi berdurasi sekitar 10 hari.
Kalau pendaratan ini berjalan lancar, maka Artemis II akan resmi dikenang bukan hanya sebagai misi yang sukses secara teknis, tetapi juga sebagai misi yang kembali mengingatkan manusia bahwa perjalanan ke luar angkasa selalu punya dua sisi: sains dan rasa takjub. Dan dari semua momen yang dibawa pulang kru kali ini, “Earthset” mungkin akan jadi salah satu gambar yang paling lama diingat.