- 8.8/10 (12 Reviews)

- 8 hari lalu
Registrasi SIM biometrik mulai berlaku penuh 1 Juli 2026. Kebijakan ini mengubah cara nomor HP diverifikasi dan membuka pertanyaan baru soal keamanan identitas digital.

Hedra.ID, Jakarta - Ancaman quantum terhadap crypto sering terdengar seperti kekhawatiran masa depan yang masih terlalu jauh. Komputer quantum yang cukup kuat untuk membobol kriptografi blockchain belum tersedia secara luas, dan aset crypto hari ini tidak otomatis berada dalam bahaya langsung.
Tetapi industri crypto mulai menghitung risiko itu dengan lebih serius karena masalahnya bukan hanya kapan komputer quantum siap. Masalah yang lebih sulit adalah apakah blockchain bisa berpindah ke sistem kriptografi baru sebelum ancaman itu benar-benar matang.
Crypto bergantung pada kriptografi untuk membuktikan kepemilikan aset dan mengesahkan transaksi. Dalam banyak blockchain, pengguna memiliki private key untuk menandatangani transaksi dan public key yang bisa terlihat di jaringan. Selama ini, komputer biasa tidak realistis untuk menebak private key dari public key.
Komputer quantum mengubah cara membaca asumsi itu. Secara teori, komputer quantum yang cukup kuat dapat memecahkan sebagian masalah matematika yang menjadi dasar keamanan kriptografi lama. Artinya, ancaman ini belum menjadi serangan harian, tetapi sudah cukup serius untuk masuk ke perencanaan jangka panjang.
Kebingungan utamanya ada di sini: jika ancamannya belum terjadi sekarang, kenapa industri crypto tidak menunggu saja? Jawabannya sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Mengganti kriptografi blockchain bukan seperti memperbarui aplikasi biasa. Perubahan itu menyangkut dompet, node, protokol, exchange, pengembang, pengguna, dan komunitas yang harus sepakat pada jalur migrasi.
Reuters melaporkan industri cryptocurrency mulai menyiapkan pertahanan terhadap risiko quantum setelah sejumlah riset dan proyeksi memperpendek perkiraan waktu kapan komputer quantum dapat memecahkan kriptografi konvensional. Google disebut menetapkan target migrasi post-quantum cryptography pada 2029, sementara NIST sudah merilis standar kriptografi post-quantum yang dirancang untuk menahan serangan komputer quantum.
Poin pentingnya bukan bahwa semua aset crypto akan langsung dibobol pada tahun tertentu. Prediksi tentang quantum masih memiliki banyak ketidakpastian. Tidak ada satu tanggal yang bisa dipakai sebagai batas pasti.
Namun, ketika lembaga standar dan perusahaan teknologi besar mulai memperlakukan migrasi kriptografi sebagai agenda beberapa tahun ke depan, industri crypto tidak bisa menunggu sampai bukti serangan pertama muncul.
Blockchain publik punya karakter yang membuat risiko ini berbeda. Transaksi terbuka dan permanen. Banyak public key sudah terlihat karena pernah dipakai dalam transaksi. Jika suatu hari komputer quantum cukup kuat untuk menurunkan private key dari public key, aset yang terkait dengan kunci rentan bisa menjadi target.
Bitcoin sering disebut lebih terekspos karena usianya panjang dan riwayat transaksinya besar. Reuters mencatat estimasi risiko terhadap pasokan Bitcoin bervariasi, dari sekitar 35% dalam salah satu working paper yang belum dipublikasikan hingga sekitar 50% dalam riset lain.
Jawaban teknis terhadap ancaman quantum dikenal sebagai post-quantum cryptography, yaitu kriptografi yang dirancang agar tetap aman ketika komputer quantum sudah jauh lebih kuat. NIST pada 2024 merilis tiga standar utama: ML-KEM untuk pertukaran kunci, serta ML-DSA dan SLH-DSA untuk tanda tangan digital.
Bagi sistem internet biasa, migrasi ke standar baru sudah menjadi pekerjaan besar. Bagi blockchain, tantangannya lebih rumit karena perubahan kriptografi bisa memengaruhi ukuran tanda tangan, biaya penyimpanan, bandwidth, kecepatan transaksi, kompatibilitas dompet, dan desain protokol.
Reuters juga mencatat sebagian eksekutif crypto memperingatkan bahwa pindah terlalu cepat bisa menimbulkan celah baru. Arah post-quantum memang tersedia, tetapi implementasinya tetap perlu diuji. Tanda tangan digital post-quantum umumnya lebih besar daripada tanda tangan tradisional. Pada blockchain dengan batas ukuran blok atau biaya transaksi yang ketat, perubahan seperti ini bisa langsung berpengaruh pada pengalaman pengguna.
Karena itu, migrasi quantum-safe bukan sekadar mengganti satu algoritma dengan algoritma lain. Ia membutuhkan audit, pengujian, standar dompet, pembaruan node, edukasi pengguna, dan keputusan tata kelola.
Dalam jaringan terpusat, perubahan bisa diputuskan dari atas. Dalam blockchain publik, perubahan harus melewati konsensus komunitas. Proses seperti itu sering lambat karena setiap perubahan menyentuh keamanan, biaya, kompatibilitas, dan kepercayaan pengguna.
Ethereum sudah mulai menempatkan isu ini dalam roadmap. Laman resmi Ethereum menyebut komputer quantum pada akhirnya akan mengancam kriptografi yang digunakan Ethereum hari ini, dan Ethereum Foundation menargetkan perlindungan post-quantum penuh pada 2029. Saat ini belum ada blockchain 20 besar yang sudah menerapkan algoritma tanda tangan post-quantum secara penuh.
Risiko quantum sering disalahpahami sebagai masalah yang baru perlu dipikirkan ketika komputer quantum benar-benar mampu menyerang blockchain. Padahal, untuk sistem yang butuh migrasi panjang, waktu persiapan adalah bagian dari keamanan itu sendiri.
Jika ancaman matang lebih cepat daripada kesiapan industri, perbaikan bisa dilakukan dalam tekanan. Situasi seperti itu berbahaya bagi crypto karena keputusan tergesa-gesa dapat memecah komunitas, membingungkan pengguna, atau memaksa migrasi aset dalam waktu singkat.
Ada juga persoalan aset lama yang tidak aktif. Dalam blockchain, sebagian aset berada di alamat yang sudah lama tidak bergerak. Jika pemiliknya tidak lagi aktif, kehilangan akses, atau tidak mengikuti migrasi, aset tersebut bisa tetap berada dalam format kriptografi lama. Ini membuat ancaman quantum bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal bagaimana jaringan menangani akun lama, public key yang sudah terlihat, dan aset yang tidak mudah dipindahkan.
Namun, ancaman quantum tidak perlu dibaca secara panik. Saat ini, langkah yang lebih masuk akal adalah kesiapan bertahap: memetakan bagian mana yang rentan, menguji algoritma baru, membuat dompet lebih siap migrasi, dan menyiapkan jalur perubahan yang bisa dipahami pengguna.