
- sebulan lalu
Apple resmi mengumumkan pergantian kepemimpinan tertinggi setelah mengarungi era Tim Cook selama kurang lebih 15 tahun.

Hedra.ID, Shenzhen - Huawei kembali mencuri perhatian di pasar smartphone premium. Seri Huawei Mate 90 yang disiapkan untuk meluncur tahun ini disebut akan memakai chip Kirin generasi baru dengan kemampuan yang mendekati prosesor mobile berbasis fabrikasi 3nm.
Kabar ini mencuat setelah Huawei memaparkan pendekatan baru dalam pengembangan semikonduktor, yakni Tau (τ) Scaling Law dan arsitektur LogicFolding. Teknologi ini bukan sekadar mengecilkan ukuran transistor seperti pendekatan chip konvensional, melainkan berfokus mempercepat pergerakan sinyal dan data di dalam chip agar performa meningkat lebih efisien.
Berdasarkan informasi Huawei Central yang dikutip Hedra.ID, Kamis (28/5/2026), Huawei menyebut chip Kirin yang dijadwalkan hadir pada musim gugur 2026 akan menjadi chip pertama yang mengadopsi LogicFolding.
Zheng Jun, CTO Huawei Financial System Department, menyebut teknologi berbasis Tau Law sudah diterapkan pada model Huawei Mate 90. Ia mengatakan, “Chip yang dikembangkan berdasarkan Tao (τ) Law telah diterapkan pada model Huawei Mate 90, mencapai level proses kelas atas yang mendekati 3nm.”
Secara sederhana, klaim “mendekati 3nm” ini tidak otomatis berarti chip tersebut benar-benar diproduksi dengan proses fabrikasi 3nm seperti milik TSMC atau Samsung. Yang dimaksud Huawei lebih mengarah pada kelas performa dan kepadatan transistor.
Selain itu, Reuters juga mencatat, China saat ini masih dinilai berada di kisaran kemampuan produksi chip sekitar 7nm, sementara TSMC sudah bergerak ke teknologi 2nm dan menargetkan produksi massal 1,4nm pada 2028.
Huawei sendiri menjelaskan bahwa Tau Scaling Law mengganti fokus dari “geometric scaling” menuju “time scaling”. Dengan LogicFolding, jalur kabel kritis di dalam chip dipersingkat sehingga hambatan sinyal bisa dikurangi. Dampaknya, kepadatan transistor, performa, dan efisiensi energi dapat ditingkatkan tanpa sepenuhnya bergantung pada mesin litografi paling mutakhir.
Dari sisi angka, laporan yang beredar menyebut chip Kirin baru ini berpotensi membawa peningkatan kepadatan transistor hingga 53,5%, peningkatan performa dan efisiensi inti sebesar 41%, serta kenaikan frekuensi puncak 12,7%. Nama komersial chip tersebut belum diumumkan resmi, meski beberapa rumor menyebutnya sebagai Kirin 9050 atau Kirin 9050 Pro.
Bagi Huawei, langkah ini punya arti strategis. Sejak masuk daftar pembatasan perdagangan Amerika Serikat pada 2019, perusahaan asal China itu tidak lagi leluasa mengakses teknologi chip dan perangkat lunak asal AS.
Kondisi tersebut mendorong Huawei memperkuat kemampuan semikonduktor sendiri, termasuk lewat lini Kirin untuk smartphone dan Ascend untuk AI. Dampaknya juga bisa terasa di pasar seperti Indonesia.
Ya, Huawei masih memasarkan perangkat premium di Tanah Air, termasuk lini Mate dan Pura melalui situs resmi Huawei Indonesia. Di halaman resminya, Huawei Indonesia sudah menampilkan Huawei Mate 80 Pro sebagai salah satu produk smartphone yang tersedia, sehingga peluang kehadiran Mate 90 di Indonesia tetap menarik untuk dipantau.
Namun, persaingan di Indonesia tidak mudah. Laporan Counterpoint Research menunjukkan pengiriman smartphone Indonesia turun 9% secara tahunan pada kuartal I 2026 karena konsumen menunda pembelian akibat harga perangkat yang makin mahal. Di sisi lain, segmen premium justru mencapai level tertinggi, menandakan masih ada ruang bagi smartphone flagship jika menawarkan nilai yang kuat.
Jika Huawei Mate 90 benar-benar membawa chip Kirin baru dengan performa setara kelas 3nm, perangkat ini berpotensi menjadi salah satu flagship paling menarik dari Huawei dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya karena spesifikasinya, tetapi juga karena Mate 90 bisa menjadi bukti sejauh mana Huawei mampu membangun jalur teknologi sendiri di tengah tekanan geopolitik dan keterbatasan akses ke teknologi semikonduktor global.