- 8.8/10 (12 Reviews)

- 4 hari lalu
OnePlus menghentikan peluncuran produk baru di Eropa dan Amerika Utara, tetapi tetap menjamin dukungan, garansi, dan pembaruan perangkat lama.

Hedra.ID, California - YouTube memperjelas aturan monetisasi untuk membatasi konten berkualitas rendah yang dibuat secara massal dengan bantuan AI, templat, atau alat otomatis lainnya. Penjelasan terbaru itu mulai berlaku bagi anggota YouTube Partner Program pada 16 Juli 2026.
Yang perlu dicatat, berdasarkan informasi resmi dari blognya, Selasa (21/7/2026), pembaruan ini bukan larangan menyeluruh terhadap video buatan AI. Kreator tetap dapat menggunakan teknologi tersebut selama hasil akhirnya orisinal, menunjukkan kontribusi kreatif, dan memberi nilai edukasi atau hiburan kepada penonton.
YouTube membagi konten tidak autentik ke dalam tiga kelompok utama. Kelompok pertama mencakup video generik atau repetitif yang dibuat dengan pola dan templat serupa, tetapi hanya memiliki sedikit perbedaan dari satu unggahan ke unggahan lain.
Contohnya termasuk tayangan slide, cerita dengan susunan berulang, atau video AI yang terlihat diproduksi massal tanpa sudut pandang orisinal. Tutorial juga dapat terkena aturan ini apabila hanya mengulang informasi yang sudah banyak tersedia tanpa penjelasan atau pendekatan baru.
Meski demikian, penggunaan format yang sama tidak otomatis membuat sebuah kanal kehilangan monetisasi. Kreator masih dapat memakai pembuka dan penutup serupa, mempertahankan karakter yang sama dalam sebuah serial, atau menggunakan struktur ulasan yang konsisten, selama isi utama setiap video tetap berbeda dan memiliki substansi.
Kelompok kedua mencakup konten yang dinilai mengganggu atau tidak memberikan pengalaman yang memadai kepada penonton. Kategori ini meliputi video yang mengandalkan penderitaan, kekerasan, kehilangan, kejutan, atau emosi berlebihan untuk mengejar jumlah penayangan tanpa alur cerita yang jelas.
YouTube mencontohkan video yang berulang kali menampilkan hewan dalam bahaya, rangkaian potongan AI yang tidak saling berhubungan, serta visual realistis yang membuat penonton mengira kematian selebritas atau bencana palsu benar-benar terjadi.
Aturan tersebut tidak hanya berlaku pada video buatan AI. Kanal yang terus memproduksi konten manipulatif dengan cara lain juga dapat kehilangan akses ke YouTube Partner Program.
Kelompok ketiga secara khusus mengatur penggunaan persona AI untuk membahas topik sensitif. YouTube tidak mengizinkan monetisasi kanal yang menggunakan karakter AI seolah-olah sebagai pakar manusia untuk memberikan diagnosis kesehatan, nasihat keuangan, panduan hukum, atau informasi politik.
Pembatasan itu tidak mencakup semua penggunaan karakter atau visual buatan AI. Kreator masih dapat memakai AI untuk membuat tokoh dalam cerita, membantu penyuntingan naskah, atau menghasilkan latar visual, selama karya akhirnya memiliki alur dan arah kreatif yang jelas.
YouTube juga membedakan aturan monetisasi dari kewajiban memberi label pada konten buatan atau hasil manipulasi AI. Keberadaan label AI saja tidak otomatis memengaruhi rekomendasi maupun menentukan apakah sebuah video dapat menghasilkan pendapatan.
Dalam proses peninjauan, YouTube menilai kanal secara keseluruhan. Platform dapat memeriksa tema utama, video terbaru, unggahan dengan jumlah penonton terbesar, sumber waktu tonton, metadata, dan bagian profil kanal.
YouTube belum mengungkap jumlah atau proporsi pasti video bermasalah yang dapat menyebabkan monetisasi dicabut. Namun, perusahaan menegaskan bahwa kanal yang sebagian besar berisi konten generik, manipulatif, atau persona AI pada topik sensitif tidak memenuhi persyaratan YouTube Partner Program.