- 8.8/10 (12 Reviews)

- 14 hari lalu
Oracle dilaporkan melakukan PHK ribuan karyawan saat masih mengajukan ribuan visa kerja H-1B. Langkah ini memicu kritik dan sorotan di industri teknologi.

Hedra.ID, Jakarta - Lab Indonesia 2026, pameran laboratorium terbesar di Indonesia kembali hadir untuk kedelapan kalinya di Hall 5-7 Indonesia Convention Exhibition BSD City. Pameran ini dgelar 15-17 April dengan mamerkan 921 teknologi dan solusi laboratorium dari 32 negara.
Pada edisi kali ini, 305 perusahaan dari 16 negara ikut memamerkan produk dan layanan mereka. Empat paviliun internasional, yakni China, Jerman, Korea Selatan, dan Malaysia, membuka stan terpisah untuk mempresentasikan kekuatan ekosistem masing-masing.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Hedra.ID, lingkup pameran Lab Indonesia 2026 mencakup analytical systems, biotechnology and life sciences, laboratory instruments, laboratory consumables, testing, research and development, hingga quality assurance and control. Secara keseluruhan, teknologi yang ditampilkan menyentuh sektor medis, farmasi, pendidikan, dan penelitian ilmiah.
Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia Kristi Wulandari menilai pameran ini sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai hub laboratorium di kawasan. Menurut dia, partisipasi internasional yang masif menunjukkan bahwa pasar laboratorium Indonesia dinilai strategis oleh pelaku industri global.
Selain pameran, acara ini juga dirancang sebagai wahana transfer teknologi. Pengunjung bisa mengikuti 21 sesi LabForum berupa konferensi ilmiah, 135 LabTalk yang mencakup seminar teknis, workshop, hingga live demo, serta sesi One to One Business Matching untuk mempertemukan exhibitor langsung dengan calon mitra bisnis.
Konsep business matching ini dirancang agar perusahaan dalam negeri tidak sekadar melihat teknologi, tapi bisa langsung berdialog dan berpotensi mengadopsi solusi yang sesuai kebutuhan. Bagi pelaku industri farmasi dan medis dalam negeri, akses ke peralatan laboratorium mutakhir biasanya terkendala oleh harga dan informasi yang terbatas. Pameran seperti ini bisa menjadi jembatan.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN Prof. Dr. Ratno Nuryadi menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar memamerkan teknologi. Ia menyebut Lab Indonesia 2026 sebagai bagian dari ekosistem inovasi nasional yang disokong oleh Astacita, peta jalan riset nasional dari Kemendiktisaintek, bahkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional.
Dalam konteks ini, pameran laboratorium bukan lagi acara yang berdiri sendiri. Ini terhubung dengan peta jalan kebijakan riset negara yang menargetkan kemandirian teknologi di sektor-sektor strategis. Para pemenang yang ambil bagian dalam forum-forum ilmiah ini bisa menjadi kanal masuknya pengetahuan terbaru ke dalam ekosistem penelitian dalam negeri.
Perlu dicatat, verifikasi lanjutan terhadap klaim dari pihak organisator dan exhibitor masih diperlukan untuk mengukur sejauh mana potensi transfer teknologi yang sesungguhnya terjadi selama acara berlangsung.