
- 25 hari lalu
Kemensos mempercepat digitalisasi bansos dengan integrasi data lintas sektor untuk meningkatkan akurasi dan transparansi penyaluran bantuan di Indonesia.

Hedra.ID, Massachusetts - Samsung mulai membawa Galaxy Watch 8 ke arah yang lebih serius di ranah kesehatan digital. Perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu bekerja sama dengan Massachusetts General Hospital Diabetes Research Center untuk meneliti apakah smartwatch bisa membantu memantau risiko kehilangan massa otot pada pasien yang menjalani terapi GLP-1, kelas obat yang juga dikenal melalui nama populer seperti Ozempic.
Studi ini menjadi menarik karena penggunaan obat GLP-1 semakin banyak dibicarakan, bukan hanya untuk diabetes tipe 2, tetapi juga karena efeknya terhadap penurunan berat badan. Namun, di balik popularitas tersebut, muncul perhatian baru dari kalangan medis: penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat ikut mengurangi massa otot, bukan hanya lemak.
Melalui penelitian ini, Samsung ingin melihat apakah data biometrik dari Galaxy Watch 8 dan Samsung Health bisa membantu pasien serta tenaga medis memantau perubahan tubuh secara lebih menyeluruh.
Seperti diberitakan Engadget, Jumat (28/5/2026), Samsung Electronics America dan Massachusetts General Hospital Diabetes Research Center mengumumkan studi bersama ini pada 27 Mei 2026. Penelitian tersebut akan berlangsung selama enam bulan dan melibatkan orang dewasa yang baru memulai terapi GLP-1 receptor agonist atau GLP-1RA.
Dalam studi ini, Galaxy Watch 8 akan dipakai untuk memantau beberapa data kesehatan, termasuk komposisi tubuh, aktivitas fisik, dan detak jantung. Data tersebut kemudian akan dipadukan dengan panduan olahraga yang disesuaikan untuk membantu menjaga massa otot selama proses penurunan berat badan.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Melissa Putman dari Massachusetts General Hospital Diabetes Research Center. Ia menilai wearable seperti Galaxy Watch punya potensi memberi “wawasan yang sangat berharga” bagi dokter dalam memahami perubahan kondisi pasien selama terapi.
Obat GLP-1 bekerja dengan meniru hormon alami tubuh yang membantu mengatur gula darah dan nafsu makan. Karena efeknya pada rasa kenyang dan metabolisme, obat ini banyak digunakan dalam terapi diabetes tipe 2 dan, pada indikasi tertentu, pengelolaan berat badan.
Masalahnya, penurunan berat badan tidak selalu berarti lemak saja yang berkurang. Dalam beberapa kasus, massa otot juga bisa ikut turun. Ini menjadi perhatian karena otot berperan penting dalam kekuatan tubuh, postur, aktivitas harian, hingga metabolisme dasar.
Jika massa otot turun terlalu banyak, pasien bisa mengalami penurunan kekuatan, metabolisme yang melambat, dan berpotensi lebih mudah mengalami kenaikan berat badan kembali setelah terapi berhenti. Karena itu, menjaga massa otot selama program penurunan berat badan menjadi hal penting.
Di sinilah Samsung mencoba masuk. Galaxy Watch 8 tidak diposisikan sebagai alat diagnosis medis, melainkan sebagai perangkat pendukung yang dapat membantu pengguna memahami tren kondisi tubuhnya dari waktu ke waktu.
Studi ini akan membandingkan dua kelompok peserta. Kelompok pertama menggunakan Galaxy Watch 8 untuk memantau komposisi tubuh melalui fitur Bioelectrical Impedance Analysis atau BIA, melacak aktivitas fisik, memantau detak jantung, serta menerima panduan olahraga yang dipersonalisasi.
Sementara itu, kelompok kedua akan menerima panduan standar yang biasa diberikan kepada pasien yang memulai terapi GLP-1RA, tanpa dukungan Galaxy Watch 8.
Untuk memastikan hasilnya lebih akurat, peneliti juga akan memakai pemindaian DXA sebagai alat pembanding klinis. DXA dikenal sebagai salah satu metode yang digunakan untuk mengukur komposisi tubuh, termasuk massa lemak dan massa tanpa lemak.
Dengan membandingkan kedua kelompok tersebut, peneliti ingin mengetahui apakah data dari wearable benar-benar bisa membantu pasien mempertahankan massa otot lebih baik dibanding pendekatan standar.
Salah satu fitur yang menjadi pusat penelitian ini adalah Body Composition di Galaxy Watch. Fitur ini menggunakan sensor BIA untuk memperkirakan komposisi tubuh, seperti massa otot rangka, lemak tubuh, kadar air tubuh, indeks massa tubuh, hingga basal metabolic rate.
Di perangkat konsumen, fitur semacam ini memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan medis. Namun, manfaatnya ada pada pemantauan rutin. Pengguna bisa melihat perubahan tren tubuhnya dari waktu ke waktu, terutama saat sedang menjalani program kesehatan atau perubahan pola hidup.
Bagi Samsung, penelitian ini juga menjadi bagian dari strategi yang lebih besar. Smartwatch tidak lagi hanya dipasarkan sebagai perangkat notifikasi dan pelacak olahraga, tetapi semakin diarahkan menjadi pendamping kesehatan personal.
Jongmin Choi, Head of Health R&D Group, Mobile eXperience Business Samsung Electronics, menyebut kolaborasi ini berfokus pada tantangan kesehatan nyata yang dihadapi pasien selama terapi GLP-1RA, terutama dalam membangun kebiasaan sehat dan mengelola kehilangan massa otot.
Meski studi ini dilakukan di Amerika Serikat, isu yang dibahas cukup relevan untuk Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 2,2% berdasarkan diagnosis dokter. Namun, jika berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah, angkanya mencapai 11,7%.
Di sisi lain, prevalensi obesitas nasional pada penduduk di atas 18 tahun juga meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023. Obesitas sentral pada penduduk usia di atas 15 tahun bahkan tercatat sebesar 36,8%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa isu metabolik, diabetes, dan pengelolaan berat badan bukan lagi persoalan kecil. Dalam konteks ini, perangkat wearable seperti smartwatch bisa menjadi alat bantu untuk meningkatkan kesadaran pengguna terhadap aktivitas fisik, detak jantung, kualitas tidur, dan perubahan komposisi tubuh.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa penggunaan obat GLP-1 seperti semaglutide tetap harus mengikuti indikasi medis dan pengawasan dokter. Di Indonesia, dokumen BPOM mencatat injeksi semaglutide telah disetujui untuk indikasi diabetes melitus tipe 2 dengan nama produk Ozempic. Artinya, penggunaan obat ini tidak bisa disamakan dengan suplemen diet bebas atau solusi instan untuk menurunkan berat badan.
Langkah Samsung ini memperlihatkan arah baru industri wearable. Jam tangan pintar semakin sering digunakan untuk mendukung pemantauan kesehatan, mulai dari detak jantung, tidur, aktivitas fisik, hingga komposisi tubuh.
Namun, pengguna tetap perlu memahami batasannya. Data dari smartwatch dapat membantu memberikan gambaran awal dan tren kesehatan, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan medis. Diagnosis, perubahan dosis obat, dan strategi terapi tetap harus dilakukan bersama tenaga medis profesional.
Bagi pengguna di Indonesia, studi ini bisa menjadi pengingat bahwa teknologi kesehatan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Smartwatch dapat membantu membangun kebiasaan lebih sehat, tetapi tetap harus digunakan secara bijak.
Jika hasil studi Samsung dan Massachusetts General Hospital menunjukkan hasil positif, bukan tidak mungkin fitur wearable ke depan akan semakin terintegrasi dengan layanan kesehatan digital. Galaxy Watch 8 bisa menjadi contoh bagaimana perangkat konsumen mulai bergerak dari sekadar pelacak olahraga menjadi bagian dari ekosistem pemantauan kesehatan yang lebih serius.