- 8.8/10 (12 Reviews)

- 8 hari lalu
Username WhatsApp membantu pengguna berkomunikasi tanpa membuka nomor telepon, tetapi fitur ini juga memunculkan kekhawatiran soal impersonasi dan penipuan.

Hedra.ID, Jakarta - Rumah sakit bisa memiliki robot, sensor, kecerdasan buatan, dan berbagai layar digital tanpa benar-benar menjadi rumah sakit pintar. Teknologi baru memberi dampak ketika data yang dihasilkan masuk ke sistem rumah sakit, dapat digunakan tenaga kesehatan, dan menyatu dengan proses pelayanan sehari-hari.
Kolaborasi Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang memberi gambaran tentang proses tersebut. Keduanya mengembangkan Smart Health, perangkat berbasis kecerdasan buatan dan Internet of Things yang dirancang untuk mengukur sejumlah parameter kesehatan serta mengirim hasilnya ke Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit atau SIMRS.
Pertanyaan utamanya bukan berapa banyak teknologi yang dipasang. Hal yang perlu dilihat adalah apakah perangkat tersebut benar-benar bekerja sebagai bagian dari satu sistem pelayanan, atau hanya berdiri sebagai alat digital yang terpisah.
Smart Health yang dikembangkan tim UNSRI dapat mengukur enam parameter: saturasi oksigen, denyut jantung, tekanan darah, suhu tubuh, tinggi badan, dan berat badan. Menurut keterangan tim COMNETS UNSRI, hasil pengukuran dapat dikirim langsung ke SIMRS RSMH melalui integrasi yang menggunakan Single Sign-On.
Alur tersebut dapat mengurangi kebutuhan menyalin hasil pemeriksaan dari kertas ke komputer. Dokter atau perawat bisa menerima data yang sudah terhubung dengan sistem rumah sakit sebelum melanjutkan pemeriksaan pasien.
Di sinilah perbedaan antara perangkat yang sekadar terhubung dan sistem yang benar-benar terintegrasi. Sebuah alat mungkin dapat mengirim angka melalui jaringan, tetapi manfaatnya tetap terbatas jika hasil tersebut masih harus dimasukkan ulang, tidak terhubung dengan identitas pasien, atau tidak tersedia di aplikasi yang digunakan tenaga kesehatan.
Rumah sakit pintar membutuhkan rangkaian yang lebih utuh. Perangkat harus menangkap data, mengaitkannya dengan pasien yang tepat, mengirimkannya dalam format yang dapat dibaca sistem, menyimpan informasi secara aman, lalu menampilkannya kepada petugas yang berwenang.
Kegagalan pada salah satu tahap dapat mengurangi manfaat keseluruhan sistem. Data yang dikirim cepat tetap berisiko jika masuk ke rekam pasien yang salah. Sebaliknya, data yang akurat tidak banyak membantu jika dokter kesulitan mengaksesnya saat dibutuhkan.
Keterangan pengembang menyebut data sensor Smart Health diproses menggunakan AI untuk memberi gambaran awal mengenai kondisi pasien. Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan model AI yang dipakai, cara validasi klinisnya, tingkat akurasinya, ataupun bentuk keluaran yang dihasilkan.
Belum jelas apakah AI hanya membantu menyusun hasil pengukuran atau sudah memberikan rekomendasi tertentu. Tanpa penjelasan tersebut, perannya belum dapat dinilai lebih jauh. Penyebutan AI juga tidak dapat langsung diartikan sebagai kemampuan mendiagnosis penyakit atau menggantikan penilaian dokter.
Bagian teknis yang lebih terlihat justru berada pada upaya membuat perangkat dan SIMRS saling bertukar data. Laporan mengenai proyek tersebut menyebut tim mengembangkan sistem untuk menangkap data dari monitor pasien, mengubah data berstandar HL7 ke format JSON, lalu mengirimkannya ke SIMRS melalui API.
Proses itu dapat dipahami sebagai lapisan penerjemah. Perangkat medis dan aplikasi rumah sakit mungkin memakai struktur data yang berbeda. Tanpa aturan bersama, sebuah sistem bisa menerima angka tetapi tidak memahami apakah angka itu merupakan suhu tubuh, tekanan darah, atau hasil pemeriksaan lain.
Panduan interoperabilitas SATUSEHAT menunjukkan kebutuhan serupa dalam skala yang lebih luas. Pertukaran data kesehatan membutuhkan API, struktur informasi, terminologi, autentikasi, serta proses validasi yang disepakati. Tujuannya bukan hanya memindahkan data, tetapi memastikan maknanya tetap konsisten ketika dibaca oleh sistem lain.
AI baru dapat bekerja dengan baik setelah fondasi tersebut tersedia. Sistem analitik membutuhkan data yang terstruktur, terbaca, dan terhubung dengan konteks pasien yang benar. Tanpa aliran data yang dapat diandalkan, AI berisiko menjadi fitur tambahan di atas sistem yang masih terpecah-pecah.
Riset UNSRI yang dipresentasikan kepada RSMH tidak berhenti pada Smart Health. Tim juga memperkenalkan konsep interkoneksi perangkat ICU dengan SIMRS serta robot pengantar obat yang menggunakan navigasi berbasis sensor dan AI.
Tahap perkembangan setiap teknologi perlu dibedakan. Smart Health telah diuji coba dan prototipenya diserahkan kepada RSMH. Sementara itu, sejumlah teknologi lain masih berada dalam tahap penjajakan, demonstrasi, atau rencana pengembangan. Kehadiran berbagai prototipe belum berarti semuanya telah menjadi bagian dari operasional rutin rumah sakit.
Penerapan teknologi juga menuntut penyesuaian proses kerja. Rumah sakit perlu menentukan siapa yang memeriksa hasil otomatis, bagaimana petugas menangani data yang tidak wajar, apa yang dilakukan ketika jaringan terputus, dan kapan prosedur manual harus digunakan kembali.
Hak akses, pencatatan aktivitas sistem, pemeliharaan perangkat, serta pelatihan staf juga menentukan apakah integrasi dapat digunakan secara konsisten. Sistem yang baik secara teknis belum tentu bertahan jika tanggung jawab pengelolaannya tidak jelas.
Kajian yang diterbitkan jurnal regional WHO mengenai interoperabilitas sistem informasi rumah sakit menempatkan kebijakan, standar, pendanaan, infrastruktur, dan sumber daya manusia sebagai unsur yang saling berkaitan. Integrasi teknis sulit dipertahankan tanpa tenaga yang mampu mengelola sistem, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan anggaran pemeliharaan jangka panjang.
Tim pengembang menyatakan Smart Health menggunakan enkripsi dan dapat mengurangi kesalahan pencatatan. Pernyataan tersebut masih berasal dari pihak yang mengembangkan teknologi. Belum tersedia evaluasi independen mengenai keamanannya, keandalan hasil pengukuran, dampaknya terhadap waktu pelayanan, atau pengaruhnya terhadap hasil klinis pasien.
Kedewasaan rumah sakit pintar akhirnya tidak ditentukan oleh banyaknya sensor, robot, atau fitur AI yang tersedia. Ukurannya berada pada apa yang terjadi setelah data diperoleh: apakah informasi sampai kepada petugas yang tepat, dalam bentuk yang dapat dipahami, pada waktu yang dibutuhkan, serta melalui jalur pemeriksaan dan tanggung jawab yang jelas.
Kolaborasi UNSRI dan RSMH telah membangun titik awal yang konkret dengan menghubungkan perangkat pemeriksaan dan SIMRS. Perkembangannya nanti lebih tepat dinilai dari keandalan integrasi, validasi klinis, keamanan data, dan kemampuan tenaga rumah sakit memakai sistem tersebut dalam pelayanansehari-hari.