- 8.8/10 (12 Reviews)

- 5 hari lalu
Xiaomi 18 Fold menawarkan hardware agresif, tetapi belum resmi tersedia di Indonesia. Galaxy Z Fold 8 lebih masuk akal untuk mayoritas pembeli lokal.

Hedra.ID, Jakarta - iPhone Duo mungkin menjadi foldable yang paling menggoda bagi pengguna Apple saat ini. Bukan hanya karena ini perangkat lipat pertama Apple, tetapi juga karena perusahaan akhirnya membawa iOS ke bentuk perangkat yang selama bertahun-tahun identik dengan Android.
Masalahnya, produk yang paling menarik belum tentu menjadi produk yang paling masuk akal untuk dibeli. Jika keputusannya harus dibuat sekarang, terutama untuk pembeli Indonesia yang siap masuk ke kelas foldable premium, Galaxy Z Fold 8 Ultra punya posisi lebih kuat.
Alasannya bukan karena Samsung menang di semua aspek. Justru ada beberapa kompromi yang cukup jelas. Namun, jauh lebih banyak bagian dari pengalaman menggunakan Fold 8 Ultra yang sudah bisa dinilai sebelum uang dikeluarkan.
Samsung sudah menjual Galaxy Z Fold 8 Ultra di Indonesia dan review independen sudah memberi gambaran tentang penggunaan hariannya. iPhone Duo masih berada pada tahap yang berbeda. Apple baru mengumumkannya pada 9 September 2026, dengan pre-order global mulai 16 Oktober dan ketersediaan mulai 23 Oktober. Indonesia tidak tercantum dalam daftar negara tahap awal yang disebut Apple.
Artinya, untuk pembeli lokal, pertanyaan tentang iPhone Duo masih belum berhenti pada bagus atau tidak. Harga dan waktu penjualan resminya di Indonesia pun belum punya jawaban dari sumber yang tersedia.
Galaxy Z Fold 8 Ultra membawa layar utama 8 inci, cover screen 6,5 inci, dan bobot 215 gram. Kamera belakangnya terdiri dari kamera utama 200 MP, ultrawide 50 MP, dan telefoto 10 MP dengan optical zoom 3x. Kapasitas baterainya 5.000 mAh.
Angka-angka itu memang mudah dibandingkan. Namun, alasan Fold 8 Ultra lebih meyakinkan sekarang justru datang setelah spesifikasinya diterjemahkan ke penggunaan nyata.
Dalam review detikINET, layar 8 incinya dinilai berguna untuk membaca, memilih foto, mengedit gambar, dan aktivitas lain yang mendapat keuntungan dari bidang kerja lebih luas. Baterainya juga disebut memberikan peningkatan waktu pakai yang terasa dibanding generasi sebelumnya.
Kamera utama dan ultrawide mendapat penilaian positif, sementara kamera telefoto 3x justru menjadi salah satu komprominya. Jadi, pembeli sudah punya gambaran yang relatif jelas tentang apa yang didapat sekaligus apa yang harus diterima.
Meskipun begitu, Fold 8 Ultra juga tidak sempurna. Review yang sama mencatat absennya dukungan S Pen, kekurangan yang cukup terasa untuk perangkat yang menawarkan layar besar dan membawa narasi produktivitas. Bentuk layar dalam yang mendekati persegi juga tidak otomatis membuat semua konten terlihat lebih besar. Video 16:9, misalnya, tidak selalu memanfaatkan seluruh bidang layar.
Ini penting karena layar besar merupakan salah satu alasan utama membayar mahal untuk sebuah foldable. Fold 8 Ultra memberi fleksibilitas yang sulit didapat dari ponsel biasa, tetapi bukan berarti setiap aktivitas akan terasa lebih baik hanya karena layarnya bisa dibuka.
Harga juga perlu sedikit kehati-hatian. Samsung Newsroom Indonesia pada Agustus mencantumkan Galaxy Z Fold 8 Ultra 12/256 GB seharga Rp32.499.000. Sementara itu, halaman perbandingan Samsung Indonesia yang lebih baru menyebut Fold 8 Ultra mulai Rp36.499.000.
Karena dua halaman resmi tersebut menampilkan angka berbeda, angka itu sebaiknya tidak dianggap sebagai harga transaksi terkini tanpa mengecek Samsung Shop ketika akan membeli. Konflik harga ini tidak mengubah posisi Fold 8 Ultra sebagai produk yang sudah tersedia lokal, tetapi tetap penting bagi keputusan akhir karena selisih beberapa juta rupiah bukan detail kecil di kelas ini.
Kalau Fold 8 Ultra unggul karena kepastian, daya tarik iPhone Duo datang dari sesuatu yang belum dimiliki Samsung: pengalaman foldable yang dibangun langsung di dalam ekosistem iPhone.
iPhone Duo memiliki layar dalam 7,6 inci dan layar luar 5,4 inci, bobot 254 gram, chip A20 Pro, dua kamera belakang 48 MP, ProMotion hingga 120 Hz, dan rating IP68. Apple mengumumkan harga mulai US$1.999 untuk kapasitas 256 GB di pasar AS.
Dilihat dari hardware saja, Duo tidak otomatis mengungguli Fold 8 Ultra. Layarnya lebih kecil, bobotnya sekitar 39 gram lebih berat, dan sistem kameranya tidak menawarkan lensa telefoto khusus seperti Samsung.
Tetapi membaca Duo hanya dari daftar spesifikasi juga melewatkan bagian paling menariknya. Dalam hands-on The Verge, layar dalam dengan lapisan matte dinilai mampu mengurangi pantulan dengan baik. Mekanisme engsel terasa mulus, sementara bekas lipatan disebut sulit dirasakan dengan jari.
Transisi konten antara layar luar dan layar dalam juga menjadi salah satu bagian yang menonjol dari pengalaman awal tersebut. Ada pula penggunaan dalam posisi seperti laptop dan tent mode yang memanfaatkan bentuk perangkat ketika tidak dibuka sepenuhnya.
Apple sendiri menaruh kontinuitas dua layar sebagai bagian penting dari pengalaman Duo. Layar luar dan dalam menggunakan rasio aspek yang sama, sementara iOS 27 dirancang agar konten dapat berpindah serta menyesuaikan diri ketika perangkat dibuka atau ditutup. Dukungan Apple Pencil USB-C juga dijanjikan menyusul.
Untuk pengguna yang sudah lama berada di ekosistem Apple, pendekatan semacam ini bisa jauh lebih penting daripada memenangkan perbandingan jumlah kamera atau ukuran layar.
Hanya saja, di sinilah batas data Duo mulai terasa. Hands-on singkat belum bisa menjawab bagaimana perangkat ini setelah dipakai berjam-jam setiap hari. Belum ada basis independen yang sama kuatnya untuk menilai baterai dalam penggunaan campuran, temperatur ketika multitasking berat, kestabilan aplikasi pihak ketiga di layar lipat, daya tahan engsel setelah pemakaian panjang, atau apakah kompromi kameranya terasa sepadan dengan harga premium.
The Verge sendiri masih mempertanyakan dampak beberapa mode lipat terhadap baterai. Itu belum berarti baterainya buruk. Justru sebaliknya: datanya belum cukup untuk membuat kesimpulan kuat.
Galaxy Z Fold 8 Ultra paling masuk akal untuk pembeli yang memang ingin memakai foldable premium sekarang dan tidak ingin terlalu banyak mengambil risiko pada produk generasi pertama. Keunggulannya bukan hanya pada layar yang lebih besar atau kamera yang lebih fleksibel. Pembeli sudah bisa melihat batas perangkat ini sebelum membeli.
Kita tahu bahwa S Pen tidak didukung, telefoto bukan bagian terkuat kameranya, dan layar besar tidak selalu optimal untuk video. Pada saat yang sama, manfaat layar luas, kamera utama, ultrawide, dan peningkatan baterainya juga sudah mendapat konteks dari penggunaan independen.
Bobot 215 gram menjadi keuntungan praktis lain. Pada perangkat yang akan dibawa setiap hari, selisih sekitar 39 gram dibanding Duo bukan angka yang sepenuhnya abstrak.
Namun, rekomendasi Samsung tidak otomatis berlaku untuk semua orang. Bagi pengguna Apple yang sudah berada jauh di dalam ekosistemnya dan tidak ingin berpindah platform, membeli Fold 8 Ultra hanya karena lebih matang juga belum tentu menjadi keputusan terbaik. Jika tujuan sebenarnya adalah mendapatkan pengalaman iPhone dalam bentuk foldable, pilihan yang lebih rasional justru menunggu.
Menunggu di sini bukan berarti iPhone Duo terlihat buruk. Justru hands-on awal menunjukkan beberapa bagian yang menjanjikan, terutama pada cara hardware dan software bekerja ketika perangkat dibuka dan ditutup.
Masalahnya ada pada harga dan tingkat kepastian. Dengan harga mulai US$1.999 di AS, Duo bukan produk yang murah untuk dijadikan percobaan.
Apple memang punya pengalaman panjang membuat iPhone, tetapi bentuk foldable tetap menjadi generasi pertama bagi perusahaan tersebut. Pembeli awal akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar baru, sekaligus menerima lebih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Karena itu, jika keputusan harus dibuat sekarang, Galaxy Z Fold 8 Ultra lebih masuk akal. Samsung sudah memberi pembeli lebih banyak hal yang bisa diperiksa sebelum transaksi. iPhone Duo belum perlu dicoret, tetapi juga belum punya cukup bukti untuk mengejar Samsung dalam rekomendasi beli saat ini.
Untuk pengguna Apple, pilihan paling masuk akal adalah menunggu review penuh serta kepastian harga dan penjualan Indonesia. Jika pengujiannya nanti kuat dan biaya lokalnya masih dapat diterima, barulah Duo punya dasar yang lebih kokoh untuk dinilai bukan sekadar sebagai iPhone paling baru, melainkan sebagai foldable premium yang benar-benar layak dibeli.