- 8.8/10 (12 Reviews)

- 18 hari lalu
Misi Artemis II kembali mencuri perhatian publik, bukan hanya karena berhasil membawa manusia kembali terbang jauh ke sekitar Bulan

Hedra.ID, Guangzho - Xpeng, startup kendaraan listrik asal Tiongkok yang selama ini dipandang sebagai rival utama Tesla, secara terbuka menargetkan bulan Agustus untuk mengklaim supremasi swakemudi di pasar China.
Seperti dikutip Hedra.ID dari Forbes, Senin (27/4/2026), CEO sekaligus salah satu pendiri Xpeng, He Xiaopeng, menjadi pihak yang menyampaikan ambisi ini , tidak tanggung-tanggung mengklaim sistem swakemudi Xpeng sudah mengungguli Tesla FSD di beberapa skenario mengemudi yang kompleks. Ironinya, Tesla FSD sendiri hingga kini belum mendapat izin beroperasi di China sama sekali.
Platform yang menjadi tumpuan Xpeng adalah VLA atau Vision Language Action yang merupakan sistem swakemudi berbasis AI yang dikembangkan secara internal tanpa ketergantungan pada vendor eksternal. Menurut Xpeng, VLA sudah cukup matang untuk menjalankan manuver di kondisi lalu lintas China yang padat dan penuh ketidakpastian. Ini berbeda dengan Tesla yang masih harus menunggu persetujuan regulasi untuk membawa FSD ke pasar Tiongkok.
VLA bukan sekadar nama untuk fitur swakemudi biasa. Xpeng membangun platform ini dengan pendekatan yang berbeda dari kompetitor - memadukan persepsi visual, pemrosesan bahasa alami, dan action modeling dalam satu sistem yang saling terintegrasi. Hasilnya, menurut Xpeng, adalah kemampuan navigasi yang lebih adaptif terhadap kondisi jalan yang tidak terstruktur dengan baik, sesuatu yang sering menjadi masalah bagi sistem swakemudi yang sangat bergantung pada infrastruktur pemetaan yang sempurna.
SUV GX menjadi bukti nyata dari serangan Xpeng ke posisi Tesla. Kendaraan ini dilengkapi chip AI canggih yang dirancang untuk menangani pemrosesan data berat secara real-time, ditambah sistem steer-by-wire yang menghilangkan hubungan mekanis antara setir dan roda, memberikan presisi kontrol yang lebih tinggi untuk fungsi swakemudi. Xpeng bahkan berani menyebut GX sebagai mobil "robotaxi-ready" pertama mereka, yang artinya kendaraan ini sudah dirancang memenuhi standar untuk beroperasi tanpa pengemudi pengawas di area yang sudah dipetakan.
Tesla sudah lama berjanji bahwa teknologi FSD mereka akan masuk ke China, tapi janji itu terus molor karena hambatan regulasi. Pemerintah China ketat dalam mengawasi teknologi swakemudi dari perusahaan asing, terutama soal keamanan data dan validasi sistem sebelum diizinkan beroperasi di jalan umum.
Sementara Tesla terus memperjuangkan perizinan, Xpeng sudah mengumpulkan data operasional nyata dari jutaan kilometer pengujian di jalan China, di mana menjadi sebuah keunggulan yang tidak bisa dikejar pesaing manapun dalam waktu singkat. Bagi industri kendaraan listrik secara luas, perlombaan ini punya dampak yang jauh melampaui pasar China saja.
Kompetisi antara Xpeng dan Tesla membentuk standar baru bagi sejauh mana teknologi swakemudi bisa berkembang ketika diterapkan di kondisi lalu lintas dunia nyata. Indonesia, sebagai salah satu pasar EV yang sedang tumbuh pesat, pada akhirnya juga akan terkena dampak dari kompetisi ini, baik dalam bentuk kendaraan canggih yang tersedia untuk diimpor, maupun standar regulasi yang dipakai pemerintah untuk mengizinkan kendaraan swakemudi di jalan dalam negeri.
Selain target Agustus, Xpeng juga punya jadwal yang cukup agresif untuk mendiversifikasi portofolio mereka. Perusahaan ini berencana memulai pengiriman mobil terbang pada 2027 dan akan melakukan peluncuran robot untuk keperluan komersial dijadwalkan pada kuartal keempat tahun yang sama.
Kedua rencana ini menunjukkan bahwa Xpeng tidak mau hanya menjadi perusahaan kendaraan listrik konvensional, tetapi mereka sedang membangun portofolio produk yang mencakup mobil, pesawat, dan robot dalam satu ekosistem AI yang saling terhubung.
Harga SUV GX Xpeng dimulai dari sekitar US$58.500 atau setara Rp900 jutaan dalam konversi kasar. Dengan spesifikasi seperti chip AI khusus dan sistem steer-by-wire, GX mewakili segmen kendaraan yang belum banyak dibahas oleh merek lain di pasar global, dan peluncuran di China bulan Agustus nanti akan menjadi momen penting untuk mengukur apakah klaim Xpeng soal supremasi swakemudi bisa bertahan di bawah sorotan media global.