
- 6 bulan lalu
OpenAI mengumumkan kemitraan dengan Broadcom untuk mengembangkan chip AI khusus yang melengkapi chip NVIDIA dan AMD. Simak detailnya.

Hedra.ID, Texas- Oracle tengah menjadi sorotan setelah dilaporkan melakukan gelombang PHK besar-besaran di saat yang hampir bersamaan dengan pengajuan ribuan permohonan visa kerja H-1B untuk tenaga asing di Amerika Serikat.
Kabar ini memicu reaksi keras di media sosial dan forum internal karyawan, karena bagi banyak orang, situasinya terlihat kontradiktif: di satu sisi perusahaan memangkas tenaga kerja, tetapi di sisi lain masih aktif mengajukan izin untuk merekrut talenta dari luar negeri.
Menurut sejumlah laporan media internasional yang dihimpun Hedra.ID, Senin (6/4/2026), Oracle mulai memberhentikan karyawan pada 31 Maret 2026, dengan notifikasi yang dikirim melalui email pada pagi hari. Sejumlah pekerja disebut menerima pemberitahuan bahwa hari itu menjadi hari kerja terakhir mereka, disertai informasi bahwa akses ke sistem internal perusahaan akan segera dinonaktifkan.
Isi email yang beredar menyebut bahwa penghapusan posisi dilakukan sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas dan penyesuaian terhadap kebutuhan bisnis Oracle saat ini. Oracle sendiri hingga kini belum memberikan komentar publik yang rinci mengenai skala penuh pemutusan hubungan kerja tersebut.
Yang jelas, dampaknya disebut meluas ke berbagai divisi, termasuk area cloud, sales, customer success, Oracle Health, hingga NetSuite. Laporan lain juga menyebut bahwa PHK ini tidak hanya berdampak di Amerika Serikat, tetapi juga menyentuh karyawan di sejumlah negara lain.
Di saat bersamaan, data yang dikutip New York Post menunjukkan bahwa Oracle juga tercatat telah mengajukan sekitar 3.126 petisi H-1B sepanjang tahun fiskal 2025 dan 2026, dengan sekitar 436 pengajuan tercatat pada tahun ini.
Sebagai konteks, H-1B adalah visa kerja di Amerika Serikat yang memungkinkan perusahaan merekrut tenaga asing untuk posisi yang membutuhkan keahlian khusus, termasuk bidang teknologi, software engineering, data, dan AI.
Bagi perusahaan teknologi, program ini selama bertahun-tahun dianggap penting untuk mengisi posisi yang dinilai sulit dipenuhi lewat talent pool domestik. Namun di sisi lain, skema ini juga terus menuai perdebatan karena kerap dianggap memberi tekanan terhadap tenaga kerja lokal, terutama saat kondisi pasar kerja sedang melemah.
Perlu dicatat, pengajuan H-1B tidak selalu berarti perekrutan baru sepenuhnya. Dalam sejumlah kasus, petisi juga bisa diajukan untuk perpanjangan atau perubahan status pekerja asing yang sudah lebih dulu bekerja di perusahaan tersebut.
Tetap saja, waktu kemunculan dua kabar ini, PHK dan pengajuan visa kerja, membuat narasi yang terbentuk menjadi sensitif.
Sorotan terhadap Oracle makin besar setelah sejumlah pengguna di forum anonim untuk karyawan teknologi seperti Blind mulai membagikan reaksi mereka.
Sebagian menyebut langkah perusahaan terasa seperti tamparan bagi pekerja yang baru saja kehilangan pekerjaan, terutama bagi mereka yang sudah bekerja cukup lama di Oracle. Kritik juga muncul dari pengguna media sosial lain yang menilai praktik seperti ini bukan hal baru di industri teknologi: perusahaan memangkas karyawan, lalu kembali merekrut dengan struktur biaya yang berbeda.
Meski reaksi seperti ini cukup emosional, kemunculannya juga mencerminkan keresahan yang lebih luas di industri saat ini. Banyak pekerja teknologi merasa pasar kerja sedang bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya transparan, terutama ketika perusahaan berbicara soal efisiensi, AI, dan restrukturisasi, tetapi di saat yang sama masih aktif membangun kapasitas baru di area tertentu.
Kalau dilihat lebih jauh, langkah Oracle ini tampaknya tidak bisa dilepaskan dari strategi bisnis yang lebih besar.
Beberapa laporan menyebut bahwa perusahaan sedang berupaya menekan biaya operasional di tengah investasi besar-besaran pada infrastruktur AI dan data center. Oracle sendiri saat ini sedang memperluas perannya di gelombang AI enterprise, termasuk lewat ekspansi kapasitas cloud dan proyek infrastruktur skala besar.
Dalam konteks itu, PHK besar sering kali bukan sekadar soal “perusahaan sedang kesulitan”, tetapi lebih pada pergeseran prioritas bisnis. Perusahaan bisa saja mengurangi posisi di area tertentu sambil tetap mencari talenta baru di bidang yang dianggap lebih strategis, seperti AI, cloud architecture, atau engineering spesialis.
Masalahnya, dari sudut pandang karyawan yang terdampak, penjelasan semacam itu tentu tidak selalu terasa memadai.
Apa yang terjadi di Oracle juga bukan kasus yang berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi besar semakin sering terlihat melakukan dua hal secara bersamaan: merumahkan ribuan pekerja, sambil tetap merekrut secara selektif untuk posisi tertentu yang dianggap lebih relevan dengan arah bisnis baru mereka.
Fenomena ini semakin terlihat di era AI, ketika perusahaan berusaha menjadi lebih ramping di satu sisi, tetapi juga lebih agresif membangun tim-tim baru di sisi lain.
Karena itu, isu seperti Oracle dan H-1B ini pada akhirnya bukan hanya soal visa atau PHK semata. Ini juga menyentuh pertanyaan yang lebih besar: seperti apa sebenarnya wajah tenaga kerja industri teknologi ke depan, dan siapa yang akan paling diuntungkan dari restrukturisasi besar yang sedang berlangsung saat ini.
Hingga saat artikel ini ditulis, Oracle belum memberikan pernyataan resmi yang menjawab langsung kritik terkait waktu pengajuan visa H-1B di tengah gelombang PHK tersebut.
Namun satu hal yang sudah jelas: di tengah tekanan efisiensi dan perlombaan membangun bisnis AI, keputusan-keputusan perusahaan teknologi besar kini semakin sering dipantau bukan hanya oleh investor, tetapi juga oleh karyawan dan publik.
Dan ketika dua isu sensitif seperti PHK dan perekrutan tenaga asing muncul bersamaan, respons keras dari publik hampir pasti tak terhindarkan.