- 8.8/10 (12 Reviews)

- sebulan lalu
Samsung meluncurkan Certified Re-Newed di India, program HP refurbished resmi dengan garansi satu tahun, suku cadang asli, dan pembaruan software.

Hedra.ID, California - Insta360 membuka babak baru dalam perseteruannya dengan DJI di Amerika Serikat. Perusahaan kamera 360 derajat itu menggugat DJI di pengadilan federal California dengan tuduhan antitrust, setelah sebelumnya kedua perusahaan berhadapan dalam sengketa paten yang ikut melibatkan Komisi Perdagangan Internasional AS atau ITC.
Perkara ini membuat konflik keduanya tidak lagi sebatas pertanyaan apakah sebuah produk melanggar paten. Insta360 menuduh DJI memakai portofolio paten dan jalur hukum untuk menekan pesaing, sementara DJI membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai upaya mengalihkan perhatian dari temuan pelanggaran paten.
Dalam rilis resminya yang dikutip Hedra.ID, Senin (15/6/2026), Insta360 menyebut DJI melanggar hukum antitrust AS melalui akuisisi paten dan litigasi yang dinilai menghambat persaingan. Perusahaan itu mengaitkan tuduhan tersebut dengan empat kategori pasar kamera, yaitu action camera, compact camera, kamera 360 derajat, dan handheld dual-screen camera.
Insta360 juga menyoroti portofolio DJI yang disebut mencakup lebih dari 3.000 paten di bidang drone, software, dan teknologi komunikasi. Menurut Insta360, portofolio itu tidak hanya dipakai untuk melindungi inovasi, tetapi juga untuk membatasi ruang gerak kompetitor melalui gugatan dan aduan ke regulator perdagangan.
Selain meminta ganti rugi, Insta360 ingin pengadilan menghentikan praktik yang mereka tuduh antipersaingan. Dalam rilisnya, perusahaan itu bahkan menyebut upaya agar DJI melepas sejumlah paten kunci untuk memulihkan persaingan di kategori produk terkait.
DJI mengambil posisi berbeda. Dalam pernyataan resminya, perusahaan itu menyebut gugatan Insta360 tidak berdasar dan hanya berusaha mengalihkan perhatian dari temuan pelanggaran paten.
Menurut DJI, perkara ini bermula dari penggunaan teknologi berpaten milik DJI tanpa izin. Perusahaan itu juga menyebut ITC telah menemukan beberapa produk Insta360 melanggar paten DJI dan mengeluarkan exclusion order selama 15 tahun yang melarang impor produk pelanggar ke Amerika Serikat.
Di sisi lain, Insta360 menyatakan pengadilan banding Federal Circuit telah menangguhkan sementara order ITC selama proses banding berjalan.
Bagi pengguna kamera aksi, kamera 360, atau perangkat kreator, dampaknya tidak langsung terasa seperti pembaruan fitur atau peluncuran produk baru. Risiko yang lebih praktis ada pada ketersediaan model tertentu di pasar AS, arah kompetisi perangkat kreator, dan cara perusahaan teknologi memakai paten untuk mempertahankan posisi mereka.
Kasus ini juga menarik karena DJI dan Insta360 bermain di pasar yang sebagian saling beririsan. DJI banyak dikenal lewat drone dan kamera aksi, sementara Insta360 lebih kuat di kamera 360 derajat serta perangkat kreator portabel.
Ketika sengketa paten masuk ke wilayah antitrust, pertanyaannya ikut bergeser. Isunya bukan lagi hanya siapa pemilik teknologi tertentu, tetapi juga apakah penegakan paten bisa ikut membatasi pilihan pasar.
Untuk saat ini, belum ada putusan akhir yang membenarkan seluruh klaim Insta360 atau membatalkan posisi DJI. Yang jelas, perseteruan keduanya sudah naik tingkat, dari debat pelanggaran paten menjadi pertarungan hukum yang bisa memengaruhi cara dua pemain besar perangkat kreator bersaing di Amerika Serikat.