- 8.8/10 (12 Reviews)

- 11 hari lalu
Sengketa Apple dan OpenAI menjelaskan mengapa talenta AI bernilai strategis, serta perbedaan antara merekrut pegawai dan memakai rahasia dagang.

Hedra.ID, California - Google baru  saja menambahkan wajah sebagai salah satu jalur cadangan untuk mengakses akun. Melalui fitur video selfie, pengguna dapat merekam wajah lebih dulu, lalu membuat rekaman baru untuk membuktikan identitas ketika kehilangan akses ke perangkat atau metode login yang biasa digunakan.
Berdasarkan informasi yang ditulis di blog resmi Google, Kamis (23/7/2026), fitur ini tidak menggantikan kata sandi, passkey, kode cadangan, ataupun kontak pemulihan. Posisinya sebagai lapisan tambahan yang harus disiapkan sebelum masalah terjadi. Pengguna yang belum mendaftarkan video selfie tidak dapat mengaktifkannya setelah terkunci dari akun.
Batas tersebut menjelaskan fungsi utamanya. Google tidak sedang menghapus kredensial lama, tetapi menambahkan bentuk pembuktian lain ketika perangkat, nomor telepon, atau metode pemulihan yang biasa dipakai tidak lagi tersedia.
Pemulihan akun umumnya bergantung pada sesuatu yang diketahui atau dikuasai pengguna. Bentuknya bisa berupa kata sandi, nomor telepon, perangkat tepercaya, kode cadangan, atau akses ke kontak pemulihan.
Masalah menjadi lebih rumit ketika beberapa jalur itu hilang bersamaan. Ponsel dapat dicuri, nomor telepon tidak lagi aktif, sementara kode autentikasi tersimpan di perangkat yang sama. Dalam situasi seperti ini, sistem harus membedakan pemilik akun dari orang lain yang mencoba mengambil alih akses tanpa bergantung sepenuhnya pada perangkat tersebut.
Video selfie menambahkan jenis bukti yang berbeda. Saat mendaftar, pengguna diminta merekam video singkat dan mengikuti gerakan kepala untuk menangkap wajah dari beberapa sudut. Ketika membutuhkan akses di kemudian hari, pengguna membuat rekaman baru yang kemudian dibandingkan dengan video awal.
Menurut Google, gerakan tersebut juga membantu sistem memeriksa apakah rekaman dibuat secara langsung. Pemeriksaan ini dipadukan dengan mekanisme keamanan lain untuk mendeteksi upaya penyamaran menggunakan foto, video palsu, atau deepfake.
Meski demikian, kecocokan wajah tidak selalu cukup untuk membuka akun. Google mengatakan sistem dapat mempertimbangkan faktor risiko lain dan meminta pemeriksaan tambahan apabila aktivitas login dinilai mencurigakan.
Masuknya wajah ke sistem pemulihan akun terjadi ketika rekaman visual semakin mudah dimanipulasi. Foto tidak lagi hanya berfungsi sebagai gambar statis. Perangkat lunak generatif juga dapat membuat wajah bergerak, mengikuti instruksi, dan terlihat seolah direkam secara langsung.
Karena itu, mekanisme video selfie tidak cukup hanya mengenali kemiripan wajah. Sistem juga perlu menilai apakah rekaman berasal dari proses pengambilan gambar yang nyata, apakah gerakannya sesuai dengan instruksi, dan apakah konteks permintaan akses terlihat wajar.
Google menyebut penggunaan pencocokan dengan video tersimpan, pemeriksaan keaktifan melalui gerakan, serta sistem pendeteksi aktivitas login mencurigakan. Namun, pengumuman perusahaan tidak memuat tingkat keberhasilan atau kegagalan fitur ketika berhadapan dengan berbagai bentuk manipulasi.
Video selfie karena itu belum dapat diperlakukan sebagai jawaban tuntas terhadap deepfake. Fitur tersebut menambah hambatan bagi upaya pengambilalihan akun, tetapi kualitas perlindungannya tetap bergantung pada cara beberapa lapisan pemeriksaan bekerja bersama.
Google menyatakan video awal direkam dengan persetujuan pengguna, disimpan dalam keadaan terenkripsi, dan dapat dihapus melalui pengaturan akun. Secara default, rekaman digunakan untuk membantu proses login. Penggunaan untuk tujuan tambahan memerlukan persetujuan terpisah.
Kontrol tersebut penting karena wajah berbeda dari kata sandi. Kata sandi yang bocor dapat diganti, sedangkan wajah tidak dapat diperlakukan sebagai kredensial sementara dengan cara yang sama.
Keamanan fitur ini karena itu tidak hanya ditentukan oleh akurasi pencocokan. Cara rekaman disimpan, batas penggunaannya, dan kemampuan pengguna untuk mencabut persetujuan juga menjadi bagian dari mekanisme perlindungan.
Video selfie memperlihatkan perubahan yang lebih luas dalam autentikasi. Platform tidak lagi hanya meminta bukti bahwa pengguna mengetahui sebuah rahasia atau memegang perangkat tertentu. Sistem mulai menggabungkan perangkat, pola risiko, dan karakteristik fisik untuk menilai apakah seseorang benar-benar pemilik akun.
Bagi pengguna, lapisan baru ini dapat menjadi jalan keluar ketika metode pemulihan lain gagal. Pada saat yang sama, wajah ikut masuk ke dalam infrastruktur kepercayaan akun. Nilainya bukan hanya terletak pada kemudahan merekam selfie, tetapi juga pada transparansi pengelolaan data dan kekuatan pemeriksaannya ketika rekaman visual semakin mudah dipalsukan.