- 8.8/10 (12 Reviews)

- 20 hari lalu
Permintaan memori untuk pusat data AI menekan pasokan komponen smartphone, menaikkan harga, dan mempersempit pilihan perangkat murah.

Hedra.ID, Jakarta - Pemilik Galaxy Z Flip tidak otomatis punya alasan untuk pindah ke Galaxy Z Fold8. Meski sama-sama ponsel lipat Samsung, keduanya menawarkan cara pakai yang cukup berbeda. Fold8 baru terasa sebagai upgrade ketika layar Z Flip sudah menjadi batas dalam aktivitas yang dilakukan hampir setiap hari.
Samsung sendiri membedakan fungsi keduanya dengan cukup jelas. Fold8 diarahkan untuk aktivitas yang lebih nyaman di layar besar seperti membaca, menonton, bermain gim, dan membuka lebih dari satu aplikasi. Sementara itu, Flip8 tetap mengandalkan daya tarik ponsel clamshell yang ringkas, layar luar untuk interaksi cepat, serta fleksibilitas saat mengambil foto dan video.
Jadi, keputusan pindah sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan apakah Fold8 lebih canggih. Yang lebih penting adalah apakah pengguna Z Flip membutuhkan apa yang hanya bisa diberikan oleh bentuk book-style Fold8.
Galaxy Z Flip mempertahankan konsep yang sederhana: ukurannya seperti ponsel biasa ketika dibuka, lalu menjadi jauh lebih ringkas saat dilipat. Pada Flip8, Samsung memakai layar utama 6,9 inci dan layar luar 4,1 inci dengan bobot 180 gram. Karakter seperti ini cocok untuk pengguna yang memang menyukai ponsel kecil saat dibawa tanpa kehilangan ukuran layar normal ketika dipakai.
Fold8 bergerak ke arah berbeda. Layar luarnya berukuran 5,5 inci, sementara layar utama 7,6 inci memiliki rasio 4:3. Bobotnya 201 gram, sekitar 21 gram lebih berat daripada Flip8. Selisih bobot itu tidak terlalu besar di atas kertas, tetapi bentuk perangkat dan cara menggunakannya tetap berbeda.
Nilai Fold8 muncul ketika layar dalamnya benar-benar dimanfaatkan. Membalas pesan sambil melihat kalender, membaca dokumen dengan ruang lebih lega, atau menikmati konten tanpa berpindah ke tablet adalah jenis penggunaan yang lebih sesuai dengan desainnya.
Review awal TechRadar juga menemukan layar dalam Fold8 praktis untuk membaca dan bekerja dengan dokumen. Layar luarnya masih cukup fungsional untuk aktivitas singkat sehingga pengguna tidak perlu membuka perangkat setiap kali ingin melakukan sesuatu. Digital Camera World juga menilai multitasking sebagai salah satu kekuatannya, terutama untuk menonton, bermain gim, dan membaca.
Di sinilah perpindahan dari Z Flip mulai masuk akal. Jika pengguna sudah sering merasa layar ponsel biasa terlalu sempit untuk pekerjaan atau konsumsi konten, Fold8 menawarkan perubahan yang benar-benar bisa terasa.
Sebaliknya, jika sebagian besar waktu ponsel hanya dipakai untuk WhatsApp, media sosial, navigasi, pembayaran, kamera, dan aktivitas singkat lainnya, layar besar belum tentu mengubah pengalaman sebanyak yang dibayangkan.
Perbedaan lain yang sulit diabaikan adalah harga. Samsung Newsroom Indonesia mencantumkan Galaxy Z Fold8 mulai Rp28.499.000 untuk varian 12 GB/256 GB. Pada periode peluncuran yang sama, Galaxy Z Flip8 tercantum mulai Rp17.999.000.
Selisih harga awalnya sekitar Rp10,5 juta sebelum promo dan tukar tambah diperhitungkan. Untuk pemilik Z Flip generasi sebelumnya, tentu hitungannya tidak sesederhana itu.
Biaya pindah akan bergantung pada model yang dimiliki, kapasitas penyimpanan, kondisi perangkat, promo, dan nilai trade-in. Sumber yang tersedia juga belum memberikan satu nilai tukar tambah yang bisa mewakili semua pemilik Z Flip.
Karena itu, selisih Rp10,5 juta lebih tepat dibaca sebagai gambaran bahwa Fold8 berada di kelas biaya yang berbeda, bukan sebagai angka pasti yang harus dibayar setiap pengguna untuk upgrade.
Tambahan biaya tersebut juga bukan berarti Fold8 otomatis unggul dalam seluruh aspek. Kameranya menggunakan sensor utama dan ultrawide 50 MP, tetapi tidak memiliki kamera telefoto.
Digital Camera World menilai hasil kamera siang harinya dapat diandalkan, sementara pemotretan dalam kondisi minim cahaya masih memiliki batas. TechRadar juga menyoroti absennya telefoto sebagai kompromi yang cukup besar untuk perangkat di kelas harga ini.
Baterainya pun tidak menjadi alasan tunggal untuk pindah. Dalam penggunaan ringan hingga sedang yang diuji TechRadar, Fold8 dapat bertahan sekitar satu sampai satu setengah hari. Hasil itu cukup untuk sebuah foldable, tetapi belum membuat Fold8 menjadi pilihan utama bagi pengguna yang mengejar daya tahan baterai selama mungkin.
Artinya, nilai terbesar Fold8 memang datang dari bentuk book-style dan layar luasnya. Jika dua hal itu hanya sesekali digunakan, biaya pindah menjadi jauh lebih sulit dibenarkan.
Pemilik Z Flip yang paling mungkin merasakan manfaat Fold8 adalah mereka yang mulai mengerjakan lebih banyak hal dari ponsel. Membaca dokumen, mengikuti kelas daring, melihat grafik, mengedit teks, bermain gim, atau menjalankan beberapa aplikasi sekaligus memberi layar Fold8 alasan untuk terus dibuka.
Fold8 juga lebih relevan bagi pengguna yang selama ini sering membawa ponsel sekaligus tablet kecil. Dalam beberapa situasi, layar dalamnya bisa mengurangi kebutuhan berpindah perangkat.
Namun, itu tidak berarti Fold8 otomatis menggantikan tablet atau laptop untuk pekerjaan yang masih membutuhkan papan ketik atau aplikasi desktop. Sebaliknya, alasan untuk bertahan dengan Z Flip juga cukup kuat jika portabilitas adalah daya tarik utamanya.
Android Central menggambarkan perbedaannya dengan cukup jelas: Fold8 lebih cocok bagi pengguna yang menginginkan pengalaman book-style dalam perangkat yang tetap bisa dibawa sebagai ponsel, sedangkan Flip8 lebih sesuai bagi pengguna yang tidak membutuhkan ruang layar ekstra.
Pemilik Z Flip yang menyukai ukuran ringkas saat dilipat, sering memakai layar luar untuk aktivitas singkat, atau memanfaatkan FlexCam juga tidak otomatis mendapatkan pengalaman yang lebih baik dengan berpindah ke Fold8. Mereka justru meninggalkan beberapa karakter yang membuat seri Flip menarik sejak awal.
Menunggu juga tetap menjadi pilihan yang masuk akal jika Z Flip yang dipakai sekarang masih bekerja dengan baik. Promo, harga pasar, dan nilai tukar tambah dapat mengubah biaya perpindahan setelah periode peluncuran. Review jangka panjang juga masih dibutuhkan untuk memberi gambaran lebih utuh mengenai engsel, layar lipat, dan baterai.
Bagi sebagian besar pemilik Galaxy Z Flip, Fold8 karena itu belum menjadi upgrade yang perlu dikejar. Pindah baru layak ketika layar besar bukan sekadar fitur menarik, melainkan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan hampir setiap hari.
Jika kebutuhan tersebut belum ada, tetap memakai Z Flip bukan berarti tertinggal satu generasi. Itu justru mempertahankan form factor yang sejak awal dipilih karena lebih cocok dengan cara pengguna memakai dan membawa ponselnya.