
- 14 hari lalu
Permintaan memori untuk pusat data AI menekan pasokan komponen smartphone, menaikkan harga, dan mempersempit pilihan perangkat murah.

Hedra.ID, California - Qualcomm akan menaikkan harga sebagian besar chipsetnya mulai 1 September 2026. Kenaikannya dilaporkan mencapai persentase dua digit dan berpotensi menambah tekanan biaya bagi produsen smartphone Android yang menggunakan prosesor Snapdragon.
Kebijakan tersebut berlaku untuk produk yang dikirim setelah tanggal tersebut. Qualcomm mengambil langkah ini karena tidak lagi mampu menyerap seluruh kenaikan biaya dari pemasok, mulai dari produksi wafer, perakitan, pengujian, pengemasan chip, hingga komponen memori.
“Kenaikan biaya berarti harga juga akan naik,” kata Presiden sekaligus CEO Qualcomm Cristiano Amon dalam wawancaranya dengan CNBC, Rabu (29/7/2026). Ia mengatakan perusahaan akan menaikkan harga sebagian besar chip mulai 1 September sambil terus meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Qualcomm belum mengumumkan daftar lengkap chipset yang terkena penyesuaian harga ataupun besaran kenaikan untuk setiap produk. Karena itu, kenaikan persentase dua digit tidak selalu berarti semua prosesor Snapdragon akan mengalami perubahan harga yang sama.
Dampaknya terhadap harga smartphone juga tidak akan terlihat secara seragam. Produsen dapat memilih menaikkan harga jual, mengurangi margin keuntungan, memakai chipset generasi sebelumnya, atau menyesuaikan spesifikasi lain agar harga perangkat tetap berada di kelas yang dituju.
Kenaikan ini berpotensi menjangkau lebih luas daripada prosesor kelas flagship. Qualcomm memasok chipset untuk smartphone dari berbagai segmen, termasuk Snapdragon 8 Series, Snapdragon 7 Series, Snapdragon 6 Series, dan Snapdragon 4 Series.
Platform Qualcomm juga digunakan pada tablet, laptop Windows berbasis Arm, perangkat wearable, headset realitas virtual, perangkat Internet of Things, serta sistem kendaraan. Namun, belum diketahui apakah seluruh kelompok produk tersebut akan menerima penyesuaian dengan besaran yang sama.
Kenaikan harga pada chipset kelas atas kemungkinan lebih mudah diteruskan kepada konsumen karena produsen memiliki ruang harga yang lebih besar. Situasinya berbeda pada ponsel terjangkau, ketika kenaikan biaya beberapa komponen dapat mengganggu keseluruhan struktur harga perangkat.
Produsen ponsel kelas menengah dan entry-level harus menjaga agar produknya tidak masuk terlalu jauh ke kelas harga berikutnya. Mereka bisa memilih mempertahankan prosesor lama, mengurangi kapasitas memori, menghilangkan fitur tertentu, atau beralih ke pemasok chip lain.
Namun, perpindahan ke chipset MediaTek, Exynos, atau Unisoc tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Produsen perlu menguji performa, kompatibilitas perangkat lunak, kamera, modem, konsumsi daya, serta kestabilan perangkat sebelum memasuki produksi massal.
Kenaikan harga Qualcomm terjadi ketika produsen smartphone juga menghadapi lonjakan biaya memori. TrendForce memperkirakan harga kontrak rata-rata LPDDR4X pada kuartal II 2026 melonjak sedikitnya 70% hingga 75% dibandingkan kuartal sebelumnya. Harga LPDDR5X bahkan diproyeksikan naik sekitar 78% hingga 83% dalam periode yang sama.
Tekanan tersebut membuat sebagian produsen mulai meninjau kembali konfigurasi produknya. Kapasitas RAM 12 GB diperkirakan semakin umum pada kelas premium, sedangkan penggunaan RAM 16 GB berpotensi berkurang. Pada kelas menengah, RAM 8 GB kembali menjadi pilihan utama, sementara perangkat entry-level lebih banyak bertahan pada kapasitas sekitar 4 GB.
Kenaikan biaya memori berkaitan dengan besarnya permintaan komponen untuk infrastruktur AI dan pusat data. Kapasitas produksi yang tersedia semakin banyak diarahkan ke produk dengan nilai lebih tinggi, sehingga pasokan untuk perangkat konsumen menjadi lebih ketat.
IDC menyebut keterbatasan pasokan dan rekor harga memori telah menekan pengiriman sekaligus permintaan smartphone global. Pengiriman smartphone dunia turun 2,9% menjadi 293,8 juta unit pada kuartal I 2026, mengakhiri tren pertumbuhan selama 10 kuartal berturut-turut.
Dengan chipset dan memori sama-sama mengalami tekanan harga, produsen memiliki lebih sedikit ruang untuk mempertahankan spesifikasi tinggi tanpa mengubah harga jual.
Keputusan menaikkan harga juga muncul ketika bisnis chipset smartphone Qualcomm mengalami pelemahan. Pada kuartal fiskal ketiga 2026, Qualcomm membukukan pendapatan sebesar US$9,95 miliar dan laba bersih sekitar US$2 miliar. Pendapatannya turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan laba bersih turun 25%.
Pendapatan chipset smartphone tercatat US$5,09 miliar atau turun 20% secara tahunan. Pelemahan tersebut dipengaruhi kenaikan harga smartphone yang membuat konsumen menunda pembelian atau memilih perangkat dengan harga lebih rendah dan chipset lebih lama.
Qualcomm juga menghadapi berkurangnya kontribusi dari Apple. Perusahaan memperkirakan pendapatan modem dari Apple pada kuartal Desember akan turun sekitar 50% dibandingkan kuartal September karena Apple semakin banyak menggunakan modem hasil pengembangannya sendiri.
Di sisi lain, bisnis Qualcomm di luar smartphone masih tumbuh. Pendapatan chipset otomotif naik 61% menjadi US$1,59 miliar, sedangkan bisnis Internet of Things bertambah 9% menjadi US$1,83 miliar. Perusahaan ini kini berusaha mengurangi ketergantungannya pada smartphone dengan memperluas bisnis ke kendaraan, komputer, robotika, dan pusat data AI.