
- 8 hari lalu
XPeng menarik kembali 33.473 unit X9 di China karena pegas udara depan berpotensi bocor setelah lama digunakan dalam kondisi panas dan lembap.

Hedra.ID, Seoul - Samsung memperkirakan kekurangan chip memori global akan berlanjut hingga 2028. Permintaan dari pusat data AI dinilai masih tumbuh lebih cepat daripada kemampuan produsen menambah kapasitas.
Dalam paparan kinerja kuartal II 2026, eksekutif bisnis memori Samsung mengatakan kondisi pasokan berpotensi semakin ketat pada 2027 dan berlanjut hingga tahun berikutnya. Perusahaan juga memperkirakan pasar tetap kekurangan pasokan pada paruh kedua 2026, terutama untuk DRAM server, high-bandwidth memory atau HBM, dan SSD perusahaan.
Pembangunan pabrik dan penambahan lini produksi membutuhkan waktu. Pada saat yang sama, perusahaan teknologi terus meningkatkan belanja untuk server dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang dilansir Reuters, Jumat (31/7/2026), Samsung mulai mengamankan permintaan melalui kontrak pasokan jangka panjang. Perusahaan telah mencapai kesepakatan dengan lima operator pusat data global dan sedang mendekati perjanjian dengan lima pelanggan besar lainnya. Identitas para pelanggan tersebut belum diungkap.
“Hampir semua pelanggan meminta kontrak pasokan multiyear,” kata Jaejune Kim, Executive Vice President bisnis memori Samsung, dalam earnings call perusahaan.
Kontrak tersebut akan berlaku sedikitnya lima tahun dan umumnya mencakup pembayaran di muka serta batas harga minimum. Samsung menargetkan kontrak jangka panjang dapat mencakup sekitar dua pertiga produksi memorinya.
Baca juga: Tunggu Kacamata Pintar Google-Samsung atau Beli yang Lain?
Pasokan yang ketat dan kenaikan harga memori ikut mendorong laba operasi divisi semikonduktor Samsung menjadi 89,2 triliun won, atau sekitar Rp1.115 kuadriliun, pada kuartal II 2026. Angka tersebut naik dari 400 miliar won, sekitar Rp5 triliun, pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan konsolidasi Samsung mencapai 171,5 triliun won atau sekitar Rp2.144 kuadriliun. Laba operasi perusahaan tercatat 89,5 triliun won, setara sekitar Rp1.119 kuadriliun.
Namun, kenaikan harga chip juga menambah beban bisnis perangkat Samsung. Unit ponsel dan jaringan mencatat kerugian operasi sekitar 700 miliar won atau Rp8,75 triliun, meski penjualan perangkat unggulan masih tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya.
“Chip yang menguntungkan satu sisi Samsung kini membebani sisi lainnya,” kata analis pasar eToro Josh Gilbert. Menurutnya, kondisi tersebut membuat kinerja grup semakin bergantung pada harga memori dan keberlanjutan permintaan dari operator pusat data berskala besar.
Perkiraan kekurangan hingga 2028 tetap bergantung pada laju belanja infrastruktur AI, kemampuan produsen menambah kapasitas, dan perubahan permintaan pelanggan. Samsung belum mengungkap volume maupun nilai kontrak pasokan yang telah disepakati.