
- 8 hari lalu
XPeng menarik kembali 33.473 unit X9 di China karena pegas udara depan berpotensi bocor setelah lama digunakan dalam kondisi panas dan lembap.

Hedra.ID, Australia - Tiga bulan setelah Australia membatasi kepemilikan akun media sosial bagi pengguna berusia di bawah 16 tahun, hasil awalnya memperlihatkan dua perubahan yang berbeda. Apa saja?
Jumlah anak yang memiliki akun memang menurun. Namun, sebagian besar anak yang disurvei ternyata masih menggunakan media sosial, baik melalui akun sendiri maupun tanpa masuk ke dalam akun.
Laporan awal eSafety menunjukkan proporsi anak di bawah 16 tahun yang memiliki akun media sosial turun dari 52,4% menjadi 42,1%. Sementara itu, jumlah anak yang masih menggunakan platform hanya turun dari 85,9% menjadi 81,5%.
Jarak antara kedua angka tersebut memperlihatkan salah satu persoalan utama dalam penerapan batas usia di ruang digital. Pemerintah dapat menentukan siapa yang tidak boleh memiliki akun, tetapi sistem yang memutuskan siapa dapat masuk tetap berada di tangan platform.
Sejak 10 Desember 2025, platform media sosial yang masuk dalam cakupan aturan Australia diwajibkan mengambil langkah yang wajar untuk mencegah pengguna di bawah 16 tahun membuat atau mempertahankan akun.
Tanggung jawab itu dibebankan kepada perusahaan teknologi, bukan kepada anak maupun orang tua. Anak yang masih mengakses media sosial tidak dikenai hukuman. Platformlah yang dapat menghadapi penalti apabila dianggap tidak mengambil langkah yang memadai.
Model tersebut membuat keberhasilan aturan sangat bergantung pada kemampuan platform mengenali usia penggunanya.
Sistem harus dapat menentukan apakah pemilik akun benar-benar telah berusia 16 tahun atau lebih. Pada saat yang sama, proses pemeriksaan tidak boleh terlalu merepotkan pengguna dewasa atau mengumpulkan data pribadi secara berlebihan.
Di sinilah jarak antara aturan tertulis dan penerapan teknis mulai terlihat. Pemerintah dapat menetapkan batas usia, tetapi platform tetap harus menerjemahkannya menjadi sistem pemeriksaan yang bekerja pada jutaan pengguna dengan kondisi berbeda-beda.
Laporan eSafety menemukan bahwa sebagian besar anak yang sudah memiliki akun sebelum aturan berlaku masih dapat mempertahankannya atau membuat akun baru dalam tiga bulan berikutnya.
Sekitar separuh anak yang tetap memiliki akun mengatakan platform tidak pernah memeriksa usia mereka. Sebagian lainnya menggunakan akun yang mencantumkan usia 16 tahun atau lebih. Ada pula anak yang mengaku berhasil melewati pemeriksaan karena sistem estimasi umur menilai mereka sebagai pengguna yang lebih tua.
Temuan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa setiap platform sengaja mengabaikan aturan. Namun, data ini menunjukkan bahwa pembatasan usia hanya akan sekuat sistem pemeriksaan yang digunakan.
Meminta pengguna memasukkan tanggal lahir merupakan cara yang mudah, tetapi juga mudah dilewati apabila informasinya tidak diverifikasi lebih lanjut. Sebaliknya, pemeriksaan menggunakan dokumen identitas, pemindaian wajah, atau pola perilaku dapat menimbulkan masalah baru.
Sistem semacam itu membawa risiko terhadap privasi, akurasi, biaya, dan kemungkinan pengguna yang sebenarnya sudah cukup umur ikut terblokir. Verifikasi usia karena itu bukan sekadar fitur tambahan. Teknologi tersebut menjadi gerbang utama yang menentukan apakah aturan benar-benar dapat diterapkan pada tingkat akun.
Penurunan kepemilikan akun sekitar 10 poin persentase menunjukkan bahwa aturan Australia mulai menghasilkan perubahan. Namun, penurunan penggunaan media sosial jauh lebih kecil.
Frekuensi penggunaan juga tidak banyak bergerak. Reuters melaporkan sekitar 58% anak masih memakai media sosial setiap hari atau lebih sering. Sebelum pembatasan berlaku, angkanya berada di kisaran 60%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial tidak hanya berlangsung melalui akun resmi yang memakai usia sebenarnya.
Anak dapat mempertahankan akun lama, membuat akun baru, memasukkan informasi usia berbeda, meminjam akun orang lain, atau melihat bagian platform yang dapat diakses tanpa login.
Laporan tersebut juga mencatat peningkatan penggunaan layanan pesan, permainan daring, dan sejumlah platform lainnya. Data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pembatasan media sosial secara langsung menyebabkan perpindahan tersebut.
Namun, temuan itu memperlihatkan bahwa kebiasaan digital anak tidak berhenti pada satu jenis layanan. Ketika satu jalur dibatasi, aktivitas dapat berpindah ke platform atau bentuk akses lain.
Dengan demikian, kebijakan yang hanya bekerja pada lapisan akun belum tentu mampu mengubah seluruh perilaku digital anak.
Temuan lain yang perlu diperhatikan adalah menurunnya pengetahuan orang tua mengenai penggunaan media sosial anak. Penurunan ini terutama terlihat pada anak perempuan dan kelompok usia 10 hingga 12 tahun.
Pembatasan usia dapat memberikan kesan bahwa persoalan akses telah ditangani oleh platform. Orang tua mungkin menganggap anak tidak lagi dapat menggunakan media sosial karena aturan sudah berlaku.
Namun, jika anak masih mengakses layanan melalui akun yang tidak diketahui atau jalur lain, orang tua justru dapat kehilangan gambaran mengenai aktivitas mereka di ruang digital.
eSafety mengingatkan bahwa berkurangnya pengetahuan orang tua dapat memengaruhi kemampuan keluarga untuk mengenali risiko dan mencari bantuan sejak awal.
Temuan ini masih bersifat awal. Data tersebut belum membuktikan bahwa aturan pembatasan usia secara langsung membuat pengawasan keluarga memburuk.
Meski demikian, hasil awal itu menunjukkan bahwa evaluasi kebijakan tidak cukup hanya menghitung jumlah akun yang ditutup. Pemerintah juga perlu melihat bagaimana anak beradaptasi, ke mana aktivitas mereka berpindah, dan apakah orang tua masih memahami apa yang dilakukan anak di internet.
Hasil tiga bulan pertama belum cukup untuk menyatakan kebijakan Australia berhasil atau gagal. Evaluasi ini merupakan bagian awal dari penelitian selama dua tahun.
Penelitian tersebut akan mengukur perubahan dalam penggunaan media sosial, kesejahteraan anak, paparan terhadap risiko, hubungan keluarga, serta kepatuhan platform terhadap batas usia.
Namun, temuan awalnya sudah memberikan satu pelajaran penting. Larangan media sosial bagi anak tidak bekerja seperti sakelar yang dapat memutus akses hanya dalam satu langkah.
Aturan tersebut bergantung pada serangkaian keputusan teknis. Platform harus menentukan bagaimana usia diperiksa, bagaimana akun ditandai, bagaimana kesalahan dikoreksi, bagaimana data pengguna dilindungi, dan bukti apa yang digunakan untuk menunjukkan kepatuhan.
Apabila salah satu lapisan tersebut lemah, batas usia dapat tetap berlaku secara hukum, tetapi mudah dilewati dalam penggunaan sehari-hari.
Tantangannya karena itu bukan sekadar menentukan usia minimum. Pemerintah dan perusahaan teknologi perlu membangun gerbang digital yang cukup akurat untuk menegakkan batas tersebut, tanpa menciptakan risiko privasi dan kesalahan baru yang justru lebih besar.