- 8.8/10 (12 Reviews)

- sebulan lalu
Samsung meluncurkan Certified Re-Newed di India, program HP refurbished resmi dengan garansi satu tahun, suku cadang asli, dan pembaruan software.

Hedra.ID, Washington - NASA resmi mengumumkan susunan kru utama untuk misi Artemis III, salah satu misi paling penting dalam rencana besar manusia kembali menjelajah Bulan. Pengumuman ini disampaikan pada Selasa (9/6/2026) waktu setempat, setelah keberhasilan Artemis II yang sebelumnya mengirim astronaut mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi pada April lalu.
Empat astronaut yang akan menjalankan misi Artemis III adalah Randy Bresnik sebagai komandan, Luca Parmitano dari European Space Agency sebagai pilot, serta Andre Douglas dan Frank Rubio sebagai mission specialist. NASA juga menunjuk astronaut Bob Hines sebagai kru cadangan.
Meski membawa nama besar Artemis III, misi ini tidak langsung mendaratkan manusia di Bulan. NASA kini menempatkan Artemis III sebagai misi uji di orbit rendah Bumi pada 2027. Fokusnya adalah menguji kemampuan wahana Orion untuk melakukan rendezvous dan docking dengan versi uji sistem pendarat Bulan komersial yang sedang dikembangkan oleh Blue Origin dan SpaceX.
Langkah ini penting karena NASA ingin mengurangi risiko sebelum misi berikutnya. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Artemis IV akan menjadi misi pertama yang membawa astronaut ke kawasan Kutub Selatan Bulan pada 2028. Wilayah ini dianggap strategis karena berpotensi menyimpan es air, sumber daya penting untuk kehidupan manusia dan bahan bakar misi luar angkasa jangka panjang.
Administrator NASA Jared Isaacman menyebut Artemis III sebagai langkah besar menuju kembalinya manusia ke Bulan. “Hari ini kami mengambil langkah berani lainnya dalam kembalinya umat manusia ke Bulan,” ujarnya dalam pernyataan resmi NASA yang dikutip Hedra.ID, Rabu (10/6/2026).
Ia juga menekankan bahwa misi ini akan menguji operasi rendezvous dan docking yang kompleks, sekaligus mendorong teknologi yang kelak membawa manusia lebih jauh ke tata surya.
Secara teknis, Artemis III akan menjadi misi yang sangat kompleks. NASA akan meluncurkan kru menggunakan roket Space Launch System atau SLS bersama kapsul Orion dari Kennedy Space Center, Florida.
Di orbit Bumi, Orion akan bertemu dengan wahana uji pendarat Bulan dari Blue Origin dan SpaceX. Kru diperkirakan berada di luar angkasa sekitar dua pekan, dengan durasi pasti bergantung pada proses peluncuran, docking, dan rangkaian pengujian di orbit.
Blue Origin akan mengembangkan versi kru dari pendarat Blue Moon, sementara SpaceX menyiapkan versi pendarat Bulan berbasis Starship. Dalam skenario NASA, wahana uji Blue Origin akan diluncurkan terlebih dahulu dan menunggu Orion di orbit. Setelah pengujian selesai, Orion akan melepas diri, lalu menunggu Starship pathfinder SpaceX untuk rangkaian uji berikutnya.
Kehadiran Luca Parmitano juga menjadi catatan penting. Ini adalah pertama kalinya astronaut European Space Agency mendapat penugasan dalam misi Artemis. Direktur Jenderal ESA Josef Aschbacher mengatakan penugasan Parmitano mencerminkan kedalaman pengalaman Eropa dalam penerbangan antariksa manusia, sekaligus memperkuat peran European Service Module yang menopang sistem tenaga Orion.
Dari sisi pengalaman, kru Artemis III terbilang kuat. Randy Bresnik pernah terbang dengan pesawat ulang-alik Atlantis dan Soyuz. Luca Parmitano juga sudah dua kali ke luar angkasa dan pernah menjadi komandan International Space Station.
Frank Rubio mencatat rekor penerbangan luar angkasa tunggal terlama oleh astronaut Amerika, yakni 371 hari di orbit. Sementara Andre Douglas akan menjalani penerbangan luar angkasa pertamanya, setelah sebelumnya menjadi kru cadangan dan closeout crew untuk Artemis II.
Bagi Indonesia, perkembangan Artemis III bukan sekadar kabar luar angkasa dari Amerika Serikat. Misi ini menunjukkan bahwa ekonomi dan teknologi antariksa sedang masuk ke babak baru, dengan keterlibatan negara, badan antariksa, dan perusahaan swasta dalam satu ekosistem besar.
World Economic Forum bersama McKinsey memperkirakan ekonomi antariksa global dapat tumbuh dari US$630 miliar pada 2023 menjadi US$1,8 triliun pada 2035, didorong oleh layanan satelit, navigasi, komunikasi, observasi Bumi, hingga rantai pasok.
Indonesia sendiri memiliki kepentingan strategis dalam sektor ini. Pembangunan bandar antariksa nasional telah masuk dalam Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016–2040, dengan target Indonesia memiliki dan mengoperasikan bandar antariksa pada 2040. Letak Indonesia yang dekat ekuator juga dinilai menjadi keunggulan karena peluncuran satelit dari wilayah ekuator bisa lebih efisien secara energi dan biaya.
Selain itu, keberhasilan program Artemis membuka ruang pembelajaran bagi ekosistem riset Indonesia. Akademisi UGM menilai misi Artemis dapat menjadi momentum bagi BRIN dan peneliti Indonesia untuk memperkuat riset kedirgantaraan, satelit, transmisi data, hingga material yang tahan terhadap kondisi ekstrem luar angkasa.
Dengan kata lain, Artemis III bukan hanya tentang siapa yang akan terbang ke luar angkasa. Misi ini adalah uji besar bagi masa depan eksplorasi Bulan, peran perusahaan swasta dalam penerbangan antariksa, dan arah baru ekonomi teknologi global.
Untuk Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa ruang angkasa bukan lagi isu jauh di langit, melainkan bagian dari masa depan teknologi, komunikasi, riset, dan daya saing nasional.