
- 17 hari lalu
Komisi Eropa merekomendasikan negara anggota EU mengecualikan Huawei dan ZTE dari infrastruktur telekomunikasi, di tengah aturan siber baru yang menyasar pemasok berisiko tinggi.

Hedra.ID, Seattle - Kopi biasanya identik dengan sentuhan manusia. Ada barista yang menggiling biji kopi, mengatur tekanan, memanaskan susu, lalu menuangkan latte art dengan gerakan tangan yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan latihan panjang.
Namun, Artly mencoba membawa pengalaman itu ke arah baru. Startup asal Seattle ini mengembangkan Barista Bot, robot barista berbasis AI dan computer vision yang dirancang bukan sekadar untuk membuat kopi otomatis, melainkan meniru teknik barista profesional agar kualitas minuman bisa dibuat konsisten di banyak lokasi.
Menurut laporan Digital Trends, Kamis (21/5/2026), Barista Bot Artly sudah melayani pelanggan di sejumlah lokasi, termasuk gerai Muji di Portland, Oregon. Yang membuatnya menarik, robot ini tidak diposisikan seperti mesin vending biasa. Artly ingin menjadikan teknik barista kelas kompetisi sebagai sistem yang bisa direplikasi dalam skala bisnis.
Kunci dari teknologi Artly ada pada sosok Joe Yang. Ia adalah latte artist, roaster, sekaligus pemenang sejumlah kompetisi kopi di Amerika Serikat. Di Artly, Yang menjabat sebagai Chief Coffee Officer dan menjadi rujukan utama dalam melatih cara kerja Barista Bot.
Artly menyebut biji kopi mereka dipanggang oleh Joe Yang, yang juga melatih robot barista perusahaan tersebut. Dalam profil resminya, Artly mencatat Yang sebagai juara U.S. Coffee Championships Brewers Cup 2023 dan runner-up Latte Art 2023.
Cara latihannya cukup unik. Untuk membuat latte art, tim Artly memasang perangkat motion capture pada lengan Yang. Gerakan saat ia menuangkan susu kemudian direkam dan diterjemahkan ke sistem robotik. Dengan pendekatan ini, robot tidak hanya menjalankan perintah mekanis, tetapi mempelajari pola gerakan barista sungguhan.
Artly juga memakai computer vision untuk mengevaluasi hasil akhir minuman. Setelah latte dibuat, kamera pada lengan robot mengambil gambar latte art dan mengecek apakah hasilnya sesuai standar. Jika ada yang kurang tepat, sistem dapat melakukan penyesuaian untuk proses berikutnya.
Daya tarik utama Barista Bot bukan hanya karena ia bisa membuat kopi tanpa tangan manusia. Nilai jualnya justru ada pada konsistensi. Artly mengklaim sistemnya mampu mengukur bahan dengan variasi sekitar 0,1 gram, sekaligus mengontrol waktu ekstraksi, penguapan susu, level air, dan berbagai detail kecil lain yang menentukan rasa akhir kopi.
Dalam industri kopi, detail seperti ini penting. Satu minuman yang dibuat dengan takaran sedikit berbeda bisa menghasilkan rasa yang tidak sama. Di kafe yang ramai, barista manusia bisa saja kehilangan fokus karena antrean panjang, pesanan menumpuk, atau kondisi kerja yang terlalu sibuk.
Di sinilah robot barista mulai terlihat masuk akal. Bukan untuk menggantikan seluruh pengalaman nongkrong di kafe, tetapi untuk membantu bisnis menghadirkan kualitas yang stabil, terutama di lokasi dengan volume pesanan tinggi.
Artly bahkan sudah memperkenalkan versi mini Barista Bot di National Restaurant Association Show 2025. Model tersebut berukuran 4 x 4 kaki, dilengkapi kulkas lebih besar, opsi desain yang bisa disesuaikan, serta kemampuan membuat 28 minuman panas dan dingin.

Meski terlihat canggih, Barista Bot belum sepenuhnya mandiri. Sistem ini masih membutuhkan staf manusia untuk mengisi ulang biji kopi, susu, cup, sirup, dan melakukan beberapa kebutuhan operasional lain. Dengan kata lain, robot mengambil alih proses pembuatan minuman, tetapi belum menggantikan seluruh kerja kafe.
The Verge, yang pernah mencoba robot barista Artly bernama Jarvis di Seattle, juga menulis pengalaman yang cukup menarik. Awalnya sang penulis skeptis, tetapi kemudian mengakui kualitas minuman yang dibuat robot tersebut ternyata lebih baik dari ekspektasi. Meski begitu, tulisan tersebut juga menyoroti hal penting: robot bisa membuat kopi enak, tetapi belum tentu bisa menggantikan atmosfer sosial yang biasa dicari orang dari sebuah coffee shop.
Poin ini penting karena kafe bukan hanya tempat membeli kafein. Di banyak kota, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Bali, coffee shop juga menjadi ruang kerja, tempat bertemu teman, lokasi meeting santai, dan bagian dari gaya hidup urban.
Bagi Indonesia, tren robot barista menarik untuk dibaca lebih jauh. Pasar kopi lokal sedang tumbuh besar, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga konsumsi dan budaya ngopi di kota-kota besar.
USDA memperkirakan konsumsi kopi domestik Indonesia berada di kisaran 4,8 juta kantong pada 2025/2026. Produksi kopi Indonesia juga diproyeksikan tumbuh 5 persen menjadi 11,3 juta kantong, didukung cuaca yang lebih baik dan peningkatan input produksi.
Dari sisi nilai pasar, Statista memperkirakan pendapatan pasar kopi Indonesia mencapai US$11,89 miliar pada 2025. Menariknya, segmen out-of-home seperti restoran, bar, dan kafe diperkirakan menyumbang US$8,91 miliar, jauh lebih besar dibanding konsumsi kopi di rumah.
Data ini menunjukkan mengapa teknologi seperti robot barista bisa menjadi relevan suatu saat nanti. Jika pasar kafe terus membesar, pelaku usaha akan mencari cara untuk menjaga kualitas, mempercepat layanan, dan menekan inkonsistensi operasional.
Di Indonesia, contoh pertumbuhan jaringan kopi modern sudah terlihat dari kinerja Fore Coffee. Databoks mencatat Fore membukukan laba bersih Rp90,13 miliar pada 2025, naik 55 persen dibanding 2024, dengan penjualan bersih yang tumbuh 44 persen menjadi Rp1,5 triliun. Pada akhir 2025, Fore memiliki 316 gerai kopi di Indonesia, 2 gerai donut, serta 4 gerai kopi di Singapura.
Dengan jaringan sebesar itu, konsistensi rasa menjadi tantangan penting. Semakin banyak gerai, semakin sulit memastikan setiap cup punya standar yang sama. Di sinilah otomasi, sensor, data, dan AI berpotensi masuk sebagai alat bantu operasional.
Meski potensinya besar, robot barista belum tentu langsung cocok untuk semua pasar, termasuk Indonesia. Harga perangkat, biaya perawatan, kebutuhan teknisi, ketersediaan suku cadang, dan adaptasi dengan menu lokal menjadi tantangan besar.
Kopi Indonesia juga punya karakter yang sangat beragam. Ada kopi susu gula aren, es kopi pandan, kopi tubruk, manual brew, sampai minuman berbasis kopi dengan rasa lokal. Robot seperti Barista Bot perlu menyesuaikan diri dengan preferensi pasar yang tidak selalu sama dengan konsumen Amerika Serikat.
Selain itu, pengalaman kafe di Indonesia masih sangat bertumpu pada interaksi manusia. Banyak pelanggan datang bukan hanya untuk rasa kopi, tetapi juga suasana, rekomendasi barista, desain tempat, dan rasa “dilayani” yang sulit ditiru mesin.
Kekhawatiran soal dampak otomasi terhadap pekerja juga tidak bisa diabaikan. Associated Press pernah melaporkan bahwa kehadiran robot barista dan AI chef di CES 2024 memicu kecemasan pekerja sektor hospitality di Las Vegas tentang potensi hilangnya pekerjaan akibat teknologi.
Namun, dalam praktiknya, teknologi seperti ini kemungkinan lebih dulu dipakai untuk membantu pekerjaan berulang, bukan langsung menghapus peran manusia. Robot bisa menangani proses teknis yang konsisten, sementara manusia tetap memegang layanan pelanggan, pengembangan menu, storytelling produk, hingga pengalaman komunitas.
Artly memperlihatkan arah baru dalam industri makanan dan minuman: teknologi tidak hanya dipakai untuk mempercepat transaksi, tetapi juga untuk meniru keterampilan fisik manusia yang sebelumnya dianggap sulit diautomasi.
Barista Bot bukan sekadar mesin kopi mahal dengan lengan robot. Ia adalah contoh bagaimana AI, computer vision, motion capture, dan sensor bisa digabungkan untuk membawa keterampilan seorang ahli ke dalam sistem yang lebih mudah diskalakan.
Bagi bisnis kopi, ini membuka pertanyaan menarik. Apakah masa depan kafe akan diisi robot? Mungkin tidak sepenuhnya. Namun, apakah robot akan menjadi bagian dari operasional kafe modern? Kemungkinannya semakin besar.
Di Indonesia, teknologi seperti ini mungkin belum akan menggantikan barista di coffee shop favorit dalam waktu dekat. Tetapi untuk bandara, kampus, kantor besar, hotel, event, atau lokasi dengan kebutuhan layanan cepat dan konsisten, robot barista bisa menjadi format yang masuk akal.
Pada akhirnya, robot tidak harus menghilangkan sisi manusia dari kopi. Justru tantangannya adalah bagaimana teknologi bisa menjaga kualitas, sementara manusia tetap merawat cerita, rasa, dan pengalaman yang membuat secangkir kopi terasa lebih dari sekadar minuman.