- 8.8/10 (12 Reviews)

- 18 hari lalu
Ponsel lipat memperluas kemampuan smartphone, sedangkan ponsel minimalis membatasi gangguan. Bentuknya mirip, tetapi masalah yang dijawab berbeda.

Hedra.ID, Stockholm - Spotify mulai mengambil langkah lebih tegas terhadap artis dengan identitas buatan AI. Mulai pertengahan September 2026, platform streaming musik tersebut akan memberikan label “AI Persona” pada profil tertentu dan secara default tidak memasukkan musik mereka ke rekomendasi editorial maupun algoritmik.
Kebijakan ini muncul ketika musik generatif semakin mudah dibuat dan didistribusikan. Bagi Spotify, persoalannya bukan sekadar apakah AI digunakan dalam proses produksi musik, melainkan apakah pendengar memahami siapa atau apa yang sebenarnya berada di balik profil artis yang mereka dengarkan.
Melalui situs resminya, Selasa (11/8/2026), Spotify mendefinisikan AI Persona sebagai profil artis yang identitas publiknya kemungkinan dibuat menggunakan AI dan tidak merepresentasikan manusia nyata.
Label tersebut nantinya muncul di profil artis, hasil pencarian, hingga daftar lagu dalam playlist. Pengguna juga dapat mengetuk label untuk mengetahui apakah status AI tersebut diungkapkan sendiri oleh artis atau diberikan setelah proses peninjauan Spotify.
Spotify tidak hanya mengandalkan pengakuan pemilik akun. Perusahaan ini juga akan meninjau profil yang menggunakan nama dan gambar fotorealistis yang dinilai merepresentasikan identitas hasil generasi AI.
“Program Spotify berfokus untuk mengangkat musik dari artis-artis autentik yang sedang membangun karier di dunia musik,” ungkap pernyataan tertulis Spotify. Artinya, platform ini ingin memberikan ruang lebih besar kepada musisi manusia yang benar-benar membangun karier dan hubungan dengan pendengarnya.
Perubahan paling besar justru terjadi pada sistem rekomendasi. Spotify menyatakan profil yang masuk kategori AI Persona tidak akan dimasukkan secara default dalam rekomendasi editorial ataupun algoritmik. Dengan demikian, musik mereka tidak seharusnya muncul secara otomatis di berbagai rekomendasi personal pengguna.
Namun, ini bukan berarti artis AI diblokir sepenuhnya. Pendengar masih dapat mencari atau mengikuti AI Persona. Jika pengguna memang memilih mengikuti profil tersebut, musiknya masih bisa menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan mereka.
Perbedaan ini penting karena kebijakan Spotify bukan larangan terhadap seluruh musik berbasis AI, melainkan pembatasan distribusi otomatis bagi profil yang menggunakan identitas artis buatan AI.
Spotify juga menegaskan bahwa label AI Persona berbeda dari AI Credits. AI Persona membahas identitas artis. Sementara AI Credits menjelaskan bagaimana kecerdasan buatan digunakan dalam proses pembuatan lagu, misalnya untuk vokal, instrumen, lirik, atau produksi. Dengan kata lain, musisi manusia yang menggunakan AI sebagai alat bantu produksi tidak otomatis dikeluarkan dari sistem rekomendasi.
Spotify sebelumnya menegaskan bahwa penggunaan AI dalam musik bukan persoalan hitam-putih. AI dapat digunakan hanya pada sebagian proses kreatif tanpa membuat keseluruhan karya menjadi musik yang dihasilkan mesin. Saat ini, Spotify mengaku telah menerima puluhan ribu AI Credits setiap hari dari artis yang memilih menjelaskan penggunaan AI dalam proses kreatif mereka.
Adapun langkah terbaru ini sebenarnya melanjutkan kebijakan yang diperkenalkan Spotify sejak 2025. Perusahaan ini sebelumnya meluncurkan sistem penyaringan musik spam untuk mendeteksi praktik seperti unggahan massal, duplikasi lagu, manipulasi SEO, hingga konten berkualitas rendah yang diproduksi dalam jumlah besar.
Spotify menyebut telah menghapus lebih dari 75 juta lagu spam dalam periode 12 bulan ketika ledakan penggunaan AI generatif mulai terasa di industri musik. Jumlah tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi layanan streaming.
Baca juga: Spotify Tembus 300 Juta Pelanggan Premium
Ketika lagu dapat dibuat dalam hitungan menit menggunakan AI, biaya untuk membanjiri platform dengan ribuan konten menjadi jauh lebih rendah. Masalahnya tidak hanya soal kualitas. Spotify menilai praktik tersebut dapat mengalihkan perhatian dan royalti dari musisi yang membangun audiens secara organik.
Selain itu, sepanjang 2025, Spotify mengklaim membayar lebih dari US$11 miliar kepada industri musik, sementara jumlah pengguna aktif bulanan platform telah mencapai 751 juta pada akhir tahun tersebut.