
- 13 hari lalu
Putusan MK melindungi nilai ekonomi sisa kuota internet, tetapi tidak otomatis menjadikan semua paket memakai skema rollover yang sama.

Hedra.ID, China - Istilah “film buatan AI” mudah membuat kita membayangkan proses yang hampir sepenuhnya dikerjakan mesin: masukkan perintah, AI menghasilkan gambar atau video, lalu jadilah sebuah film.
AI Cinefest 2026 memperlihatkan bahwa praktiknya tidak sesederhana itu. Kompetisi yang digelar Telkomsel bersama Huawei dan MiniMax tersebut menghimpun 1.111 film pendek berbasis AI dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, setelah karya-karya itu dibuat, masih ada proses lain yang tidak kalah penting: menentukan mana yang layak dibawa ke tahap berikutnya.
Di sinilah batas antara menghasilkan karya dan mengkurasi karya mulai terlihat. AI dapat membantu membuka lebih banyak kemungkinan produksi, tetapi banyaknya hasil tidak otomatis menjawab karya mana yang paling layak dipilih.
ANTARA melaporkan seluruh karya yang masuk ke AI Cinefest dikurasi oleh Story Editor Arief Ash Shiddiq dan AI Storyteller Immanuel Manurung. Dari 1.111 karya, 100 peserta dipilih untuk mengikuti Curated Workshop.
Workshop tersebut membahas proses pembuatan film berbasis AI, mulai dari pengembangan ide sampai produksi menggunakan teknologi AI generatif. Dari rangkaian itu, 10 karya kemudian dipilih untuk ditampilkan dalam AI Cinefest Exhibition di Jakarta. Pada akhir kompetisi, tiga film diumumkan sebagai pemenang.
Urutannya menarik karena menunjukkan dua proses yang bergerak ke arah berbeda. AI dapat membantu memperluas kemungkinan untuk membuat materi. Kurasi justru mempersempit pilihan dari begitu banyak hasil yang tersedia.
Artinya, kemampuan menghasilkan output dalam jumlah besar tidak sama dengan kemampuan menentukan hasil mana yang paling tepat dipertahankan. Dalam sebuah kompetisi film, tetap ada keputusan tentang karya mana yang diteruskan, dipamerkan, lalu diberi penghargaan.
Karena itu, istilah “film AI” sebenarnya bisa menutupi beberapa lapisan pekerjaan yang berbeda. Ada teknologi yang dipakai saat membuat karya, lalu ada keputusan manusia tentang bagaimana karya itu dinilai dan ditempatkan di antara karya lain.
Pembedaan antara penggunaan AI dan kepengarangan manusia juga mulai muncul dalam aturan industri film yang lebih luas. Untuk Academy Awards ke-99, The Academy menyatakan dapat meminta informasi tambahan tentang bagaimana AI generatif digunakan dan seperti apa kepengarangan manusia dalam film yang diajukan. Dalam kategori penulisan, aturan tersebut juga menetapkan bahwa skenario harus ditulis manusia agar memenuhi syarat.
AI Cinefest dan Academy Awards tentu bukan dua ajang yang bisa disamakan begitu saja. Tujuan dan mekanismenya berbeda. Namun, keduanya menunjukkan bahwa kehadiran AI saja belum cukup untuk menjelaskan bagaimana sebuah karya dibuat.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: AI digunakan untuk bagian apa, sementara keputusan kreatif apa yang tetap dibuat manusia?
Di titik itu, kurasi bukan pekerjaan tambahan yang muncul setelah AI selesai bekerja. Kurasi justru menjadi cara untuk menghadapi semakin banyaknya hasil yang dapat diproduksi dengan teknologi generatif.
Semakin mudah sebuah sistem membuat variasi gambar, adegan, atau materi, semakin besar pula kebutuhan untuk memilih mana yang sebenarnya diperlukan. Tidak semua yang bisa dihasilkan harus dipakai.
AI Cinefest sendiri belum memberikan gambaran lengkap tentang pembagian kerja manusia dan AI dalam setiap film peserta. Laporan ANTARA tidak merinci seberapa besar porsi AI dalam masing-masing karya atau bagian produksi mana yang dibuat dengan teknologi generatif.
Sumber tersebut juga tidak menjelaskan seluruh kriteria yang digunakan untuk menentukan karya terbaik. Karena itu, kompetisi ini tidak cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa semua film berbasis AI dibuat dengan pola yang sama.
Teknologi generatif dapat membantu seseorang membuat lebih banyak materi atau mencoba lebih banyak kemungkinan. Setelah itu, masih ada keputusan tentang apa yang dipakai, apa yang dibuang, dan apa yang akhirnya dianggap sebagai sebuah karya.
Maka, ketika kemampuan AI untuk menghasilkan film semakin sering dibicarakan, pertanyaannya tidak perlu berhenti pada “apakah AI bisa membuat film?”. Pertanyaan yang lebih berguna justru datang setelahnya: ketika begitu banyak hal bisa dihasilkan, siapa yang menentukan mana yang layak menjadi karya?