
- 6 bulan lalu
Sam Altman umumkan terobosan di OpenAI DevDay 2025: ChatGPT kini dapat menjalankan aplikasi pihak ketiga. Simak bagaimana cara kerjanya.

Hedra.ID, China - Rumor soal iPhone Fold kembali menghangat. Kali ini, laporan terbaru dari China menyebut bahwa ponsel lipat pertama Apple itu kemungkinan akan menggunakan engsel berbasis 3D printing untuk membantu meminimalkan bekas lipatan (crease) pada layar lipatnya.
Kalau rumor yang dihembuskan salah satu akun Weibo, Sabtu (4/4/2026) ini akurat, ini menjadi salah satu detail teknis paling menarik sejauh ini soal iPhone Fold. Pasalnya, selama ini pembahasan seputar perangkat tersebut lebih banyak berfokus pada material seperti liquid metal atau kemungkinan penggunaan dual-layer glass, bukan pada bagaimana Apple akan merancang mekanisme engselnya secara lebih spesifik.
Kalau ada satu hal yang masih sering jadi ganjalan di pasar smartphone lipat, jawabannya hampir selalu sama: bekas lipatan di layar.
Sejauh ini, desain foldable memang sudah jauh lebih matang dibanding generasi awal. Tapi untuk banyak pengguna, crease tetap jadi detail yang sulit diabaikan, terutama saat membaca teks, menonton video, atau sekadar melihat layar dari sudut tertentu.
Karena itu, tidak heran kalau Apple disebut menjadikan pengurangan crease sebagai salah satu fokus utama sebelum benar-benar masuk ke pasar foldable. Dan bila benar mereka memilih pendekatan engsel berbasis 3D printing, itu bisa menjadi sinyal bahwa Apple tidak ingin sekadar “ikut masuk”, tetapi ingin masuk dengan solusi yang lebih matang.
Menariknya, pendekatan ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru di dunia ponsel lipat. Salah satu contoh yang paling sering disebut adalah Oppo Find N6, yang lebih dulu memakai pendekatan serupa pada engsel generasi keduanya.
Oppo menggunakan sistem yang memungkinkan struktur engsel diukur secara sangat presisi di level mikro, lalu meratakan bagian-bagian yang tidak sempurna dengan material berbasis polimer melalui proses cetak 3D. Hasil akhirnya adalah lipatan layar yang dibuat jauh lebih halus dan lebih sulit dirasakan saat disentuh.
Dengan kata lain, kalau Apple benar mengadopsi pendekatan serupa, ini bukan berarti mereka menemukan teknologi yang sepenuhnya baru. Tapi yang lebih penting, Apple tampaknya sedang memilih jalur engineering yang memang sudah terbukti efektif.
Rumor sebelumnya juga sudah sempat menyebut bahwa iPhone Fold ditargetkan untuk punya kualitas lipatan layar yang setara dengan Oppo Find N6, yang belakangan banyak dipuji karena bekas lipatannya nyaris tidak terasa dalam penggunaan normal.
Kalau benar begitu, maka tantangan Apple sebenarnya cukup jelas: bukan hanya membuat ponsel lipat yang tipis atau premium, tetapi juga menciptakan pengalaman visual yang terasa lebih “utuh” saat layar dibuka.
Dan untuk kategori foldable, detail seperti ini justru sangat penting. Karena pada akhirnya, banyak orang masih melihat crease sebagai simbol bahwa teknologi layar lipat “belum sepenuhnya sempurna”.
Kalau rumor soal engsel 3D printing ini terdengar terlalu eksperimental, sebenarnya Apple bukan pemain baru di area tersebut.
Perusahaan asal Cupertino itu disebut sudah lebih dulu memakai komponen berbasis 3D printing di beberapa produknya. Contohnya termasuk casing titanium untuk Apple Watch dan komponen tertentu seperti bagian port USB-C di lini perangkat tertentu.
Dari sisi manufaktur, metode seperti ini juga punya keuntungan yang cukup jelas. Dibanding proses forging atau pembentukan logam konvensional, 3D printing lebih efisien, bisa mengurangi material terbuang, dan memberi keleluasaan lebih besar untuk menciptakan bentuk yang kompleks dengan tingkat presisi tinggi.
Dan untuk komponen seperti engsel foldable yang ukurannya kecil tapi sangat krusial, di mana pendekatan ini memang terdengar masuk akal.
Hanya saja, semua ini masih berada di ranah rumor. Apple sendiri belum mengonfirmasi keberadaan iPhone Fold, apalagi detail teknis seperti struktur engselnya.
Namun kalau melihat arah rumor yang terus mengerucut, tampaknya Apple memang tidak ingin buru-buru masuk ke pasar foldable hanya demi mengejar tren. Mereka terlihat lebih memilih menunggu sampai teknologi, desain, dan pengalaman pengguna benar-benar siap.
Dan kalau salah satu fokus utamanya memang mengurangi crease hingga seminimal mungkin, itu bisa jadi langkah yang justru paling masuk akal.
Sebab pada pasar foldable saat ini, masalahnya bukan lagi soal “apakah layar bisa dilipat”, melainkan seberapa nyaman hasil lipatannya dipakai setiap hari.
Kalau Apple berhasil menjawab satu titik lemah terbesar itu, iPhone Fold bisa datang bukan hanya sebagai produk baru, tetapi sebagai perangkat yang berpotensi mengubah persepsi banyak orang terhadap smartphone lipat.