
- 24 hari lalu
Tautan lowongan palsu dapat mencatut nama instansi dan meminta data pribadi. Pahami kenapa tampilan meyakinkan belum membuktikan rekrutmen resmi.

Hedra.ID - California memperketat penggunaan kecerdasan buatan dalam keputusan ketenagakerjaan. Aturan baru membatasi perusahaan menyerahkan keputusan penting mengenai pekerja, termasuk pemecatan, sepenuhnya kepada AI atau sistem otomatis.
Aturan tersebut bukan berarti perusahaan di California sama sekali tidak boleh menggunakan AI untuk mengelola tenaga kerja. Teknologi masih dapat digunakan untuk membantu penilaian atau memberikan rekomendasi, tetapi manusia harus tetap memiliki peran yang bermakna ketika keputusan akhirnya berdampak besar terhadap pekerja.
“Perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan sistem keputusan otomatis untuk membuat keputusan ketenagakerjaan yang berdampak tinggi,” ujar Gubernur California Gavin Newsom seperti dilansir Engadget, Kamis (1/10/2026).
Keputusan berdampak tinggi dalam konteks ketenagakerjaan dapat mencakup proses yang menentukan apakah seseorang diterima bekerja, mendapat promosi, dikenai tindakan tertentu, atau kehilangan pekerjaannya.
Keterlibatan manusia menjadi bagian penting dari aturan tersebut. Tujuannya adalah mencegah keputusan yang memiliki konsekuensi besar terhadap pekerjaan seseorang dibuat hanya berdasarkan keluaran algoritme tanpa penilaian manusia yang memadai.
Aturan ini muncul ketika penggunaan software berbasis AI semakin luas di tempat kerja. Perusahaan dapat memakai sistem otomatis untuk menyaring pelamar, mengevaluasi kinerja, mengatur pekerjaan, hingga memberikan rekomendasi mengenai tenaga kerja.
Penggunaan teknologi seperti itu juga memunculkan persoalan mengenai transparansi dan tanggung jawab. Sistem AI dapat menghasilkan rekomendasi berdasarkan data yang tidak lengkap atau pola dalam data yang berpotensi menghasilkan perlakuan berbeda terhadap pekerja.
California tidak menutup penggunaan teknologi tersebut. Fokus regulasinya adalah membatasi seberapa jauh perusahaan dapat bergantung pada sistem otomatis ketika hasilnya menentukan keputusan penting bagi seseorang.
Dengan kata lain, AI masih bisa membantu proses pengambilan keputusan. Namun, keluaran sistem tidak boleh begitu saja menggantikan pertimbangan manusia dalam keputusan yang masuk dalam cakupan aturan.
Baca juga: Donald Trump Kritik Kekhawatiran soal AI, Ingin AS Tetap Memimpin
Bagi perusahaan yang sudah menggunakan software otomatis untuk mengelola tenaga kerja, perubahan ini dapat mendorong peninjauan kembali proses internal. Perusahaan perlu memperhatikan bagaimana rekomendasi AI digunakan, siapa yang memeriksanya, dan bagaimana keputusan akhir dibuat.
Aturan California menambah tekanan regulasi terhadap penggunaan AI yang kini semakin masuk ke proses internal perusahaan. Perhatian regulator tidak lagi hanya tertuju pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada siapa yang tetap memegang kendali ketika sebuah keputusan berdampak la