- 8.8/10 (12 Reviews)

- 13 hari lalu
Samsung resmi mengonfirmasi bahwa aplikasi pesan bawaannya, Samsung Messages, akan segera dihentikan. Aplikasi yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu identitas khas ponsel Galaxy

Hedra.ID, Jakarta - Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat bantu, tapi sudah menjadi pekerja digital yang mengeksekusi tugas kompleks dalam ekosistem perusahaan. Huawei Cloud resmi mendaratkan layanan Model-as-a-Service di Indonesia pada Kamis (16/4/2026), dalam gelaran Huawei Cloud AI Boost Day bertema Agentic AI Practice.
Pelayanan ini menawarkan akses satu-klik ke model-model siap pakai, sehingga menghapus hambatan teknis yang selama ini menghalangi perusahaan mengadopsi AI dalam skala besar. Bagi pelaku bisnis yang terjebak di tahap percontohan, MaaS menjanjikan jalan pintas menerapkan AI tanpa harus membangun infrastruktur sendiri dari nol.
MaaS mengintegrasikan enam model sumber terbuka kelas dunia dari keluarga GLM, DeepSeek, dan Qwen. Keenamnya dioptimalkan untuk tanya jawab cerdas dan pengkodean berbasis AI. GLM-5 menjadi sorotan utama karena performanya dinilai unggul untuk tugas pengkodean dan kapabilitas agen AI yang kompleks.
Kerangka kerja MaaS dikelola secara menyeluruh, mencakup seluruh siklus hidup model mulai dari penerapan, inferensi, penyesuaian, hingga evaluasi. Model bisnis yang diterapkan adalah pay-per-use atau pembayaran berbasis penggunaan, disertai sumber daya komputasi yang elastis sesuai kebutuhan. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mulai dari skala kecil tanpa komitmen finansial besar di awal.
Ekosistem AI Huawei Cloud mencakup CloudMatrix AI Infra, ModelArts, dan DataArts. Dua layanan tambahan bernama CodeArts dan AgentArts menyusul tersedia di Asia Pasifik pada paruh kedua 2026, memperluas kemampuan bagi pengguna di Indonesia.
CEO Huawei Cloud Indonesia Leon Fang menyatakan bahwa perusahaannya ingin menjadikan AI semudah dan seandal layanan listrik. Untuk mewujudkan visi itu, diperlukan ekosistem infrastruktur yang memadai. Ekosistem Huawei Cloud di Asia Pasifik mencakup lima region dan 18 availability zone dengan jaminan latensi 50 milidetik.
“Tujuan kami adalah menjadikan AI semudah dan seandal layanan listrik, memberdayakan industri di Indonesia untuk bekerja lebih cerdas dan berinovasi lebih cepat melalui infrastruktur cloud native yang aman,” ujarnya lewat keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Jumat (17/4/2026).
Angka latensi ini penting untuk aplikasi yang membutuhkan respons real-time, seperti layanan pelanggan berbasis AI atau sistem otomatisasi yang memerlukan pengambilan keputusan dalam hitungan milidetik. Bagi perusahaan di Indonesia, kedekatan region cloud dengan lokasi operasional akan memengaruhi performa layanan.
Perusahaan mengalokasikan 20 persen dari pendapatan setiap tahun untuk riset dan pengembangan, yang menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap teknologi ini.
iFLYTEK di Singapura melatih model bahasa besar dalam dua minggu menggunakan layanan komputasi AI Huawei Cloud. Di Vietnam, GSM memodernisasi manajemen armada dengan IoTDA dan ModelArts. Kedua kisah sukses ini menunjukkan potensi yang bisa dikembangkan perusahaan di Indonesia.
Bagi perusahaan dalam negeri yang selama ini ragu memulai adopsi AI, MaaS bisa menjadi opsi untuk mencoba tanpa komitmen besar di awal. Keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan kebutuhan spesifik, ketersediaan SDM yang mampu mengoperasionalkan, dan rencana integrasi dengan sistem yang sudah ada.
Beberapa pertimbangan praktis juga perlu diperhatikan. Tidak semua model cocok untuk setiap kasus penggunaan. Perusahaan perlu mengevaluasi mana dari enam model yang tersedia yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Selain itu, meskipun akses satu-klik memudahkan pengenalan awal, mengoptimalkan performa model untuk konteks spesifik perusahaan tetap memerlukan keahlian tambahan.