- 8.8/10 (12 Reviews)

- sebulan lalu
XPeng menarik kembali 33.473 unit X9 di China karena pegas udara depan berpotensi bocor setelah lama digunakan dalam kondisi panas dan lembap.

Hedra.ID, China - Robot humanoid yang mampu berlari semakin cepat mudah dianggap sebagai tanda bahwa teknologi ini sudah mendekati kemampuan manusia. Di World Humanoid Robot Games di Beijing, beberapa robot bahkan mencatat waktu 100 meter yang melampaui rekor dunia manusia.
Catatan seperti itu memang menunjukkan kemajuan besar dalam kemampuan bergerak. Namun, ia menjawab pertanyaan yang sangat spesifik: seberapa cepat robot dapat berlari dalam kondisi lomba. Itu belum menjawab pertanyaan yang berbeda dan jauh lebih rumit, yaitu apakah robot yang sama sudah cukup andal untuk melakukan pekerjaan.
Sebab, pekerjaan bukan hanya soal bergerak dari satu titik ke titik lain. Robot perlu mengenali lingkungan, menemukan objek yang relevan, menggerakkan tangan atau alat dengan tepat, menentukan tindakan berikutnya, lalu tetap bisa melanjutkan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Lomba lari terutama menguji kemampuan robot menggerakkan tubuhnya. Robot harus menjaga keseimbangan, mengoordinasikan kaki, mempertahankan kecepatan, dan mengikuti jalur. Semua itu merupakan tantangan teknis yang nyata, tetapi tugasnya masih lebih terarah dibanding banyak pekerjaan sehari-hari.
Memasang kabel, misalnya, menghadirkan persoalan berbeda. Robot tidak cukup hanya mendekati konektor. Ia harus mengenali kabel dan soket, menentukan posisinya, mengarahkan tangan atau gripper dengan cukup presisi, lalu memastikan sambungan benar-benar berhasil.
World Humanoid Robot Games tahun ini memang tidak hanya mempertandingkan kemampuan atletik. Reuters melaporkan adanya tantangan berbasis skenario yang mensimulasikan pekerjaan di pabrik, restoran, kantor, dan situasi darurat. Tugas-tugas itu menguji kemampuan seperti mengenali objek, menyelaraskan posisi secara presisi, dan pulih setelah melakukan kesalahan.
Perbedaannya mulai terlihat di sini. Robot yang sangat cepat belum tentu menjadi robot yang paling berguna untuk bekerja. Kecepatan merupakan satu kemampuan, sementara pekerjaan membutuhkan beberapa kemampuan yang berjalan bersama tanpa terus-menerus bergantung pada bantuan manusia.
Dunia nyata juga jauh lebih sulit diprediksi dibanding lintasan lomba. Posisi sebuah benda bisa bergeser. Objek yang dicari dapat bercampur dengan benda lain. Robot bisa gagal menggenggam barang, salah mengarahkan tangan, atau menemukan jalur yang tiba-tiba terhalang.
Penyelenggara di Beijing memang merancang sebagian kompetisi tahun ini untuk mendekati kondisi tersebut. Skenario seperti pekerjaan rumah tangga, pemadaman kebakaran, layanan ritel, hingga tugas industri digunakan untuk menguji kemampuan robot di luar demonstrasi gerakan.
Sejumlah tugas juga dipindahkan dari arena simulasi ke lingkungan seperti pabrik, hotel, dan rumah contoh. Robot didorong untuk melakukan pemosisian, pengenalan, dan operasi secara mandiri dalam rangkaian pekerjaan yang lebih panjang.
Perubahan ini membuat ukuran keberhasilan ikut bergeser. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah robot mampu melakukan satu gerakan dengan benar, tetapi apakah ia dapat menyelesaikan beberapa tahap pekerjaan yang saling bergantung.
Mengangkat kotak, misalnya, berbeda dengan memilih komponen kecil. Memilih komponen berbeda lagi dengan memasangnya secara presisi. Ketika beberapa tugas itu dirangkai, robot harus terus menyesuaikan tindakan berdasarkan hasil langkah sebelumnya.
Di sinilah otonomi menjadi penting. Robot yang dapat bekerja hanya ketika lingkungan sudah disiapkan secara sangat spesifik tentu berbeda dari robot yang mampu mengenali perubahan dan menyesuaikan tindakannya sendiri.
Kemampuan pulih setelah melakukan kesalahan juga tidak kalah penting. Dalam pekerjaan nyata, benda bisa terlepas, posisi bisa meleset, atau percobaan pertama bisa gagal. Jika setiap kesalahan membuat robot berhenti dan membutuhkan bantuan manusia, kegunaannya untuk pekerjaan yang berlangsung terus-menerus masih terbatas.
Karena itu, demonstrasi fisik dan kesiapan kerja sebaiknya tidak diperlakukan sebagai ukuran yang sama. Sprint cepat, lompatan tinggi, atau gerakan bela diri menunjukkan perkembangan pada mekanik dan kontrol tubuh. Tugas seperti memasang komponen, menyortir barang, atau menangani kondisi yang berubah menguji lapisan kemampuan yang berbeda.
Kecepatan tetap penting. Robot yang lambat atau tidak stabil juga akan sulit berguna dalam banyak pekerjaan. Namun, kemampuan berlari cepat hanya menunjukkan bahwa satu bagian dari persoalan semakin matang.
Ukuran yang lebih dekat dengan kesiapan kerja muncul ketika robot mampu menggabungkan gerak, persepsi, manipulasi, pengambilan keputusan, dan pemulihan kesalahan dalam satu rangkaian tugas. Robot pekerja pada akhirnya tidak hanya perlu bergerak cepat. Ia perlu menyelesaikan pekerjaan yang benar secara cukup mandiri dan konsisten.