
- 2 bulan lalu
Samsung resmi memperluas fitur Galaxy AI ke perangkat generasi sebelumnya melalui pembaruan One UI 8.5.

Hedra.ID, California - Apple tampaknya mulai sulit menahan tekanan dari rantai pasok global. CEO Apple Tim Cook menyebut kenaikan harga produk perusahaan sebagai sesuatu yang semakin sulit dihindari, terutama karena biaya chip memori dan penyimpanan terus melonjak.
Masalah ini bukan sekadar perkara produksi iPhone, Mac, atau iPad. Lonjakan kebutuhan pusat data untuk kecerdasan buatan atau AI membuat permintaan komponen seperti DRAM, NAND, dan high-bandwidth memory meningkat tajam. Akibatnya, perusahaan elektronik konsumen harus berebut pasokan dengan raksasa teknologi yang sedang membangun infrastruktur AI dalam skala besar.
“Sayangnya, kenaikan harga tidak bisa dihindari,” kata Cook dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Rabu (17/6/2026). Ia juga menyebut Apple telah berupaya menahan dampaknya agar tidak langsung dirasakan konsumen, tetapi situasinya kini menjadi tidak berkelanjutan.
Hanya saja, Apple belum menjelaskan produk apa saja yang akan terdampak, kapan harga baru berlaku, atau berapa besar kenaikannya. Namun, sinyal ini cukup penting karena Apple selama ini dikenal sangat berhati-hati dalam mengubah harga, terutama untuk lini iPhone yang menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.
Kenaikan harga ini tidak terjadi di ruang kosong. Industri teknologi sedang menghadapi pergeseran besar, ketika chip memori tidak lagi hanya dibutuhkan untuk smartphone, laptop, atau konsol gim, tetapi juga untuk server AI.
Pusat data AI membutuhkan memori berkecepatan tinggi dalam jumlah besar untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan. Ketika perusahaan seperti penyedia layanan cloud, pengembang AI, dan pembuat chip berlomba membangun kapasitas komputasi, pasokan memori untuk perangkat konsumen ikut terdampak.
Cook mengatakan Apple membutuhkan harga dan pasokan memori kembali ke level yang lebih wajar untuk produk konsumen. Ia juga menyebut Apple bersedia menggunakan kekuatan neracanya untuk membantu mencari solusi, meski perusahaan tidak berencana membangun pabrik memori sendiri.
Pernyataan ini sejalan dengan komentar Apple sebelumnya dalam laporan keuangan kuartal kedua fiskal 2026. Saat itu, Cook sudah memperingatkan bahwa biaya memori akan meningkat signifikan pada kuartal Juni dan dampaknya diperkirakan makin terasa setelah periode tersebut.
Bagi Apple fanboy di Indonesia, isu ini kemungkinan membuat ketar-ketir. Seperti diketahui, produk Apple di Tanah Air selama ini sudah berada di segmen premium, dengan harga yang relatif sensitif terhadap kurs, pajak, biaya distribusi, dan kebijakan lokal. Jika Apple benar-benar menaikkan harga global, harga resmi di Indonesia berpotensi ikut terkerek, meski besarnya tetap bergantung pada strategi distributor dan kondisi pasar.
Menariknya, segmen premium di Indonesia justru masih menunjukkan daya tahan. Counterpoint Research mencatat pasar smartphone Indonesia turun 9% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, tetapi segmen premium di atas US$600 mencapai titik tertingginya. Artinya, meski pasar secara keseluruhan melemah, konsumen kelas atas masih menjadi area pertumbuhan yang menarik bagi merek seperti Apple dan Samsung.
Data StatCounter juga menunjukkan Apple memiliki basis pengguna yang cukup kuat di Indonesia. Pada Mei 2026, pangsa vendor mobile Apple tercatat 16,94%, berada di atas Samsung, Oppo, Xiaomi, dan Vivo dalam pengukuran lalu lintas perangkat. Meski data ini bukan angka pengiriman unit, angkanya memberi gambaran bahwa ekosistem iPhone sudah punya posisi penting di pasar perangkat mobile Indonesia.
Tekanan biaya memori juga bisa berdampak lebih luas, bukan hanya untuk Apple. IDC menyebut pasokan memori yang terbatas dan harga yang tinggi telah menekan pengiriman smartphone global pada kuartal pertama 2026. Pengiriman smartphone dunia turun 2,9% secara tahunan menjadi 293,8 juta unit.
IDC juga mencatat produsen smartphone menghadapi pilihan sulit, seperti mengurangi pengiriman, menaikkan harga, memangkas spesifikasi, atau menggeser portofolio ke model yang lebih mahal. Dalam konteks pasar berkembang, tekanan seperti ini bisa lebih terasa karena konsumen sangat sensitif terhadap harga.
Bagi Apple, tekanan tersebut mungkin masih bisa dikelola karena perusahaan punya basis pengguna loyal, posisi kuat di segmen premium, dan daya tawar besar terhadap pemasok. Namun, bagi konsumen, pesan utamanya jelas: perangkat baru berpotensi semakin mahal, terutama model dengan kapasitas RAM dan penyimpanan lebih besar.
Kabar ini juga memperlihatkan bagaimana ledakan AI mulai memengaruhi harga perangkat sehari-hari. Selama ini, AI sering dibicarakan dalam konteks chatbot, asisten digital, atau fitur pintar di smartphone. Namun, di balik layar, AI juga menyedot pasokan komponen penting yang sebelumnya banyak digunakan untuk produk konsumen.
Dengan kata lain, harga iPhone, Mac, atau iPad yang naik bukan hanya soal strategi bisnis Apple. Ini adalah efek domino dari perebutan chip memori di tengah demam AI global.
Untuk pengguna di Indonesia yang berencana membeli perangkat Apple, situasi ini bisa menjadi pertimbangan tambahan. Jika kenaikan harga benar-benar terjadi dalam waktu dekat, model yang beredar saat ini mungkin menjadi lebih menarik sebelum harga baru masuk ke pasar. Namun, seperti biasa, keputusan terbaik tetap bergantung pada kebutuhan, kondisi perangkat lama, dan anggaran masing-masing.