- 8.8/10 (12 Reviews)

- 2 bulan lalu
Kemensos mempercepat digitalisasi bansos dengan integrasi data lintas sektor untuk meningkatkan akurasi dan transparansi penyaluran bantuan di Indonesia.

Hedra.ID, Jakarta - WhatsApp selama ini sangat lekat dengan nomor telepon. Untuk menghubungi seseorang, pengguna biasanya perlu menyimpan atau mengetahui nomor orang itu terlebih dahulu. Dengan fitur username, pola itu mulai bergeser: orang bisa berkomunikasi tanpa langsung membuka nomor pribadinya.
Di atas kertas, ini terdengar seperti kabar baik untuk privasi. Nomor telepon memang bukan sekadar alamat kontak, tetapi juga sering terhubung ke akun, layanan finansial, pekerjaan, keluarga, dan banyak jejak digital lain. Karena itu, mengurangi kebutuhan membagikan nomor bisa menjadi lapisan perlindungan tambahan.
Masalahnya, privasi kontak tidak sama dengan kejelasan identitas. Reuters baru-baru ini memberikan bahwa pemerintah India meminta WhatsApp menahan rollout fitur username dan menjelaskan alasan implementasinya, karena fitur ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko penipuan online, phishing, dan impersonasi. India juga disebut sebagai pasar terbesar WhatsApp dengan lebih dari 500 juta pengguna, sehingga perubahan cara orang saling menghubungi menjadi isu yang tidak kecil.
WhatsApp menjelaskan username sebagai fitur opsional yang memungkinkan pengguna berinteraksi tanpa membagikan nomor telepon. Meta juga menyebut pengguna bisa mulai memesan username sebelum fitur ini dipakai lebih luas, karena banyak orang mungkin menginginkan nama yang sama.
Di sinilah letak kebingungannya. Bagi pengguna biasa, username bisa terasa seperti perlindungan: orang lain tidak langsung melihat nomor telepon ketika percakapan baru dimulai. Namun bagi regulator, ruang baru ini juga bisa dipakai untuk menyamar, terutama jika seseorang membuat username yang mirip dengan individu, lembaga, bisnis, atau otoritas tertentu.
Perbedaannya ada pada bagian yang dilindungi. Nomor telepon adalah data kontak. Username adalah identitas yang ditampilkan untuk memulai percakapan.
Ketika nomor disembunyikan, data kontak bisa lebih privat. Tetapi ketika identitas baru muncul, pengguna tetap perlu bertanya: apakah nama yang terlihat itu benar-benar mewakili orang atau organisasi yang dimaksud?
WhatsApp menyebut username tidak akan memiliki direktori publik dan tidak akan memberi saran pencarian. Orang lain harus mengetahui username secara persis agar bisa menghubungi pengguna untuk pertama kali. Pihaknya juga menyebut ada username key opsional, yaitu lapisan tambahan agar orang perlu mengetahui username dan kunci tertentu sebelum bisa mengirim pesan.
Hal ini penting, karena berarti username WhatsApp tidak dirancang seperti kolom pencarian terbuka di media sosial. Pengguna tidak bisa sekadar mengetik nama acak lalu menjelajahi daftar akun. Secara desain, WhatsApp masih mencoba mempertahankan pengalaman yang lebih privat dibanding platform sosial publik.
Namun, tidak bisa dicari bukan berarti tidak bisa disalahgunakan. Penipuan digital sering tidak bergantung pada kemampuan mencari semua pengguna, melainkan pada kemampuan membuat korban percaya. Jika pelaku sudah menyebarkan username lewat pesan, grup, tautan, atau kanal lain, korban tetap bisa diarahkan untuk memulai percakapan dengan akun yang terlihat meyakinkan.
Times of India melaporkan WhatsApp menyebut beberapa nama publik, lembaga pemerintah, figur terkenal, dan akun Meta Verified dilindungi agar hanya bisa diklaim pemilik sah. Laporan yang sama juga menyebut WhatsApp akan menampilkan informasi keamanan untuk kontak baru, termasuk asal negara dan detail akun, selain fitur blokir dan laporkan yang sudah ada.
Ini menunjukkan bahwa WhatsApp tidak mengabaikan risiko impersonasi. Tetapi perlindungan seperti itu tetap perlu dibaca sebagai mekanisme pengurangan risiko, bukan jaminan bahwa semua bentuk penyamaran akan hilang.
Selama ini, nomor telepon memberi dua sinyal sekaligus: jalan untuk menghubungi seseorang dan sebagian petunjuk identitas. Sinyal itu tidak sempurna, karena nomor juga bisa dipakai untuk spam, penipuan, atau penyamaran. Namun bagi banyak orang, nomor terasa lebih “nyata” dibanding username karena terhubung ke kartu SIM, kontak pribadi, dan riwayat komunikasi.
Username memisahkan dua hal itu. Pengguna bisa tetap memakai WhatsApp, tetapi tidak selalu harus membuka nomor kepada orang baru. Dalam grup komunitas, acara, bisnis kecil, atau percakapan dengan orang yang belum dekat, perubahan ini bisa terasa berguna. Seseorang bisa dihubungi tanpa langsung menyerahkan data kontak yang lebih sensitif.
Sebaliknya, orang yang menerima pesan juga harus lebih hati-hati membaca konteks. Nama yang rapi, mirip lembaga, atau terlihat profesional tidak otomatis membuktikan identitas pengirim. Jika pesan meminta uang, kode OTP, data rekening, tautan login, atau instruksi mendesak, masalahnya bukan hanya apakah nomor pengirim terlihat, tetapi apakah klaim pengirim bisa diverifikasi lewat kanal lain.